Pada
momen cerita kali ini adalah momen yang paling krusial bagi gue. Ya, gue udah
keluar dari sekolah celana biru tua dengan predikat lulus (hore.......!!!) dan gue akan melanjutkan untuk menikah
menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Gue sempat bingung, bimbang, dan bambang
saat menentukan kemana gue akan berlabuh karena gue nggak ada pikiran sama
sekali buat ngelanjutin sekolah kemana setelah gue lulus. Banyak saran mengenai
sekolah dari orang – orang sekitar yang gue tampung, banyak juga saran megenai
lowongan menantu dari tetangga - tetangga sekitar yang juga gue tampung (nggak ding).
Bokap
dan Nyokap menyarankan gue untuk melanjutkan sekolah ke luar kota dengan
harapan gue bisa hidup lebih mandiri, gue setuju – setuju saja dengan saran
Bokap Nyokap karena ini merupakan tantangan bagi gue, (gue suka hal – hal yang berbau menantang, kecuali menyalip emak – emak yang
mengendarai motor matic) namun keputusan gue untuk dapat sekolah ke luar
kota ditentang oleh simbah gue. Keputusan Bokap Nyokap buat menyekolahkan gue
keluar kota dinilai oleh simbah sebagai hal yang tidak rasional karena simbah
berpikiran bahwa gue masih anak – anak walaupun pada waktu itu bulu ketek gue
bisa dibayangkan udah setebal kumisnya Pak Raden (nggak ding).
Simbah
mengusulkan bahwa gue ikut dengannya ke Banten (simbah gue tinggal di Banten) dan masuk ke sekolah penerbangan yang
ada disana. Sementara Bokap mengusulkan bahwa gue akan hidup mandiri di
Semarang dan masuk ke sekolah Farmasi. Farmasi dan penerbangan, dua – duanya
belum pernah tergambar sedikitpun dalam benak gue.
Gue
menimbang – nimbang kedua pilihan tersebut, pilihan yang akan mempengaruhi masa
depan gue. Gue renungkan hal – hal tersebut tiap kali pergi ke wc. Yah, menurut
gue wc adalah tempat terbaik dalam menemukan sebuah solusi saat hidup loe penuh
problem. Gue suka banget mikirin suatu hal yang akan gue lakuin ketika gue
berada di wc. Kadang ketika sedang asik – asiknya ngeden secara nggak sengaja muncul begitu saja ide atau solusi yang
sebelumnya benar – benar nggak kepikiran oleh gue. (Bang, kok jadi bahas masalah wc sih???) maaf, lanjut kecerita.
Setelah
gue pikirkan secara matang, gue memutuskan untuk memilih Farmasi. (kenapa kok bisa pilih Farmasi bang?)
alasannya adalah karena gue pengin hidup mandiri. Jika gue pilih usulan Simbah
buat masuk ke penerbangan, secara otomatis gue akan tinggal bersama simbah dan
itu pasti nggak membantu gue buat hidup mandiri. Alasan yang sangat simpel
sekali, bahkan mungkin jika dipikirkan kembali cenderung alasan yang teramat
bodoh. Sebegitu pendeknya pikiran gue waktu dulu memilih farmasi. Kalo diingat
kembali gue kadang tertawa. Begitu polosnya gue waktu itu, belum tahu bahwa Farmasi adalah sebuah malapetaka
terbesar yang akan menimpa hidup gue sampai sekarang ini.
Farmasi? Apaan tuh?
Gue
sangat yakin dengan seyakin – yakinnya bahwa nggak bakal ada anak tk yang bisa menjawab
“apa itu farmasi?” dan nggak bakal
juga ada anak tk yang menjadikan farmasi sebagai cita – citanya. Jujur gue
telah menggeluti bidang ini selama tiga tahun terakhir dan sampai sekarang
masih belum mengerti apa itu farmasi yang sebenarnya. Dibutuhkan IQ tingkat
dewa untuk menjewantahkan kata tersebut.
Kadang
gue suka dibuat bingung untuk menjelaskan jika ditanya sama tetangga tentang
sekolah gue.
“sekolah
dimana mas?”
“SMK bu”
“oh..,
ambil jurusan apa mas?”
“ jurusan
Farmasi bu”
“wow
hebat ya, tapi ngomong – ngomong farmasi itu apa ya? Ibu nggak tau”
njir..
“hmmm....., ” (gue binggung jelasinnya)
“itu loh bu, yang jual obat di apotek”
“ooo...
jadi tukang obat yoh”
“hmmm...
bisa dibilang begitu” (muka agak sebel)
“kalo
udah lulus, mampir kerumah ibu ya? Ketemu sama Mawar*” (*anaknya tetangga
gue)
“.......”
(dalam hati, njirrr what do you
mean?) absurd.
Yah,
tukang obat. Orang – orang awam lebih mengenal tukang obat ketimbang farmasi.
Jadi kagak ada keren – kerennya gitu kalo dipanggil tukang obat. Misal saja
temen gue tanya “bro, loe sekarang jadi
apa?” gue jawab “tukang obat bro”.
Anehkan jadinya?.
Gue
juga suka binggung dengan persepsi masyarakat Indonesia yang menilai bahwa
farmasi yang orang awam menyebutnya tukang obat hanya diisi oleh orang cina saja.
persepsi ini bener – bener sangat rasis sob. Kayak, pernah suatu hari gue
bertemu ibu – ibu dikereta waktu pulang dari Semarang yang ngomong begini.
“mas,.......”
“............” (gue hanya mengangguk sambil
tersenyum)
“masnya
turun dimana nanti?”
“saya
pulang ke pekalongan bu”
“kerja
di Semarang?”
“nggak
bu saya masih sekolah, SMK”
“kalo
boleh tau jurusannya apa ya mas?”
“farmasi”
“oh..,
yang nanti jadinya tukang obat. Tapi kok masnya bukan cina?”
njir
“..... cina? Maksud ibu em.... gimananya?
Saya nggak paham”
“ya udah nanti kalo udah
lulus, mampir kerumah ibu ya? Ketemu sama Mawar”
“..........???”
njir, Ternyata ibu – ibu tadi adalah tetangga gue dulu. Absurd.
Gue
sangat heran, kok bisa – bisanya ada anggapan bahwa farmasi hanya diisi orang
cina saja, itu tukang obat cuy! Farmasi
dan tukang obat adalah b-e-d-a. Dan anehnya, anggapan ini diperkuat oleh adanya
iklan – iklan klinik alternatif sun go
kong (you know what i mean) di
tipi yang membuat masyarakat jadi semakin yakin. Padahal menurut survey yang
gue lakukan sendiri, faktanya sembilan dari sepuluh petani dinegara cina adalah
orang cina dan satu orang lainnya adalah mantan petani yang beralih profesi
menjadi tukang obat. (dapet data dari
mana loe bang?; udah percaya aja neng, nanti otakmu bucel - bucel). Absurd.
**
Sekolah
di farmasi itu susah, susah, gampang tetep aja susah. Tiap hari ada ada
saja tugas yang membuat pusing pala barbie gue. Laporan dan praktik
sudah jadi santapan sehari – hari anak farmasi. Kena omel dari guru sudah
seperti nyanyian yang biasa kita dengar sepanjang praktikum berlangsung. gue juga
pernah, bahkan sering malah kena semprot oleh guru pengampu praktikum.
Gue
inget praktikum resep pertama waktu itu, matahari bersinar sangat cerah membuat
peluh keringat bercucuran. Laporan praktikum resep yang gue buat ternyata tidak
sesuai dengan praktikum yang gue lakukan. Dan jika loe melihat meja gue waktu
itu seperti terkena musibah bencana tsunami, porak poranda cuy. Gue inget keadaan gue waktu itu sedang kacau – kacaunya. Gue
menimbang obat yang gue tak tahu betul apakah itu benar obat yang dimaksud atau
mungkin itu racun sianida (nggak ding).
Tiba – tiba tanpa ada suara langkah kaki, ibu guru datang kearah gue yang
membuat pikiran gue menjadi buyar seketika. Ia bertanya.
“ini
beratnya berapa ya mas?”
“ehm....
lima gram bu” (jawab gue dengan mengira – ngira)
“yakin
ini lima gram?” (memasang tatapan curiga)
“ehm.......
sebenernya kurang dikit sih bu”
“kurang
berapa?” (darahnya mulai naik ke ubun
– ubun)
“ya
kalo.... empat gram sih lebih bu” duh, alamat kena omel nih gue
“kamu
itu nggak bakat jadi orang farmasi, kamu itu bakatnya jadi tukang lombok
dipasar. Masak nimbang obat kayak nimbang lombok, Cuma dikira – kira. La kalo
overdosis, pasienmu itu mati. Kamu mau tangggung jawab?”
Sejenak
gue mengambil nafas dalam – dalam. Gue hembuskan perlahan. Mencoba rileks. Mata
gue melirik kesekitar. Pandangan teman – teman semua tertuju kearah gue.
melihat ekspresi mukanya seperti orang yang nonton acara tipi tahan tawa dan bakal kena denda satu
milyar kalo kelepasan ketawa. Dengan suksesnya gue kena marah oleh ibu guru
sesepuh pengampu praktikum di lab resep tercinta ini.
Waktu
itu gue cuma bisa jawab “he... he...
he... ya maap bu” sambil mringis – mringis kayak orang idiot.
**
Momok
yang paling menakutkan selain praktikum bagi anak – anak farmasi tidak lain dan
tidak bukan adalah laporan. Laporan akan menjadi hal yang menyebalkan setelah diserahkan
ke guru pembimbing dan dikembalikan dengan keadaan penuh coret – coretan
bolpoin merah. Revisi menjadi suatu kegiatan yang wajar bagi anak farmasi dalam
membuat laporan menjadi sempurna. Yap, sempurna. Puluhan kali sudah hanya untuk
satu laporan saja pernah gue buat revisi (itu
baru satu, laporan – laporan lainnya. Sudah tak terhingga lagi jumlahnya
laporan – laporan gue direvisi). sudah sebanyak bulu ketek kucing, kertas
yang gue gunakan untuk menulis ulang laporan yang direvisi tadi, dan sudah tak
ternilai jumlahnya buku – buku referensi dengan berbagai macam bahasa telah gue
baca meskipun pada akhirnya gue tidak tau artinya.
Untuk
masalah revisi laporan, gue pernah punya pengalaman laporan gue ditolak tak
terhingga sekali oleh guru pengampu praktium paling warbinazah di sekolah gue tercinta ini. Sebut saja dia ibu Sesil
(bukan nama sebenarnya). Semua warga sekolah, terutama teman – teman gue
seangkatan pasti taulah beliau. Tak ada seorangpun yang berani membicarakan
beliau. Bahkan mendengar derap langkahnya pun membuat buluk kuduk kami ikut
berdiri. Dengan menyebut nama beliau saja dapat mengheningkan seisi kelas yang
tadinya ramai rusuh. Ketika sedang dalam
pembelajaran beliau, kami harus benar – benar fokus, perhatian mata hanya
ditujukan kepada beliau semata, tidak ada satu pun dari kami yang berani gerak
– gerak, tengok kanan – kiri, berbicara sama teman, bahkan untuk menguap
sekalipun tak ada dari kami yang berani dan jika ada orang yang dengan sengaja
maupun tidak sengaja melakukannya gue simpulkan bahwa hidupnya akan kelar pada
hari itu juga. Selain itu ada mitos bahwa ketika sedang ujian dengan beliau
sebagai pengawasnya, kita dianjurkan untuk tidak menapakkan kaki ke lantai agar
dapat dengan sukses melakukan kegiatan contek – mencontek (jangan ditiru ya teman - teman) tanpa ketahuan olehnya, namun cara
tersebut tidak akan berhasil dilakukan jika beliau tepat berada didepan loe
yang lagi contek – contekan sama teman loe. Absurd.
Dengan mengampu mata pelajaran obat alam yang membutuhkan kecerdasan
tingkat dewa untuk memahaminya membuat kesan ibu Sesil ini semakin warbinazah dikalangan para siswa. Ditambah
lagi jika beliau menjadi guru pembimbing praktikum loe, gue berani jamin
selesainya laporan loe tidak akan semudah membalikan telapak kaki seekor gajah
dewasa (nggak ding).
Gue
inget pada waktu itu, tidak ada hujan tidak ada petir secara kebetulan bu Sesil
menjadi guru pembimbing kelompok kami dalam praktikum pembuatan obat alam.
Semua teman – teman riuh bergembira dan bahkan melakukan sujud syukur yang sebelum – sebelumnya hal ini tidak pernah dilakukan
oleh mereka. Gue nggak tau alasan mengapa mereka sebegitu bahagianya hingga
melakukan sujud syukur. Gue yang
masih nggak mudeng dengan situasinya mencoba untuk ikut – ikutan bergembira.
Bahkan sangkin gembiranya gue melakukan gerakan senam lantai yang malah jadi seperti
orang yang sakit ayannya lagi kambuh. Belakangan gue ketahui bahwa mereka
bergembira karena terhindari dari bu sesil sebagai guru pembimbingnya. Itu
artinya secara nggak sengaja, dengan bodohnya gue telah merayakan kemalangan nasib yang akan segera
menimpa gue.
Deadline laporan
kerja praktikum adalah satu minggu atau artinya pada hari H praktikum laporan
tersebut harus sudah jadi. Namun pada waktu itu selepas pulang sekolah, kami
langsung mengerjakannya karena kami tau waktu seminggu itu tak akan cukup untuk
membuat laporan yang sempurna, yap sempurna kayak
kamu, iyah kamu(ah, abang bisa aja
gombalnya).
Keesokan
harinya kami meminta acc laporan ke
bu sesil, dan hasilnya sudah bisa ditebak
teman – teman? Yap, gagal. Wajarlah, karena rumor dari kakak – kakak kelas
yang gue denger belum pernah ada satupun siswa yang langsung di acc laporannya oleh bu sesil hanya dalam
satu kali percobaan. Minimalnya pasti pernah direvisi satu kali, itupun hanya
pada siswa – siswa tertentu yang memiliki kecerdasan tingkat dewa (lah, kalo loe bang? Berapa kali?; sudah jangan ditanya lagi neng, biar bungkus
kopi dan kantung mata abang yang menceritakannya). Tiap hari kami meminta acc laporan ke bu sesil dan tiap hari
juga kami ditolak. Hingga pada H-1, laporan kami pun belum ter acc. Teman – teman satu kelompok sudah
menyerah, bahkan ada yang sempet ngangis dan pengin bunuh diri. Namun gue
mencoba menasehatinya bahwa jangan mati dahulu sebelum kawin. Dia mengurungkan
niatnya, tapi malah mengajak gue buat kawin dan kemudian bunuh diri bersama (nggak ding). Absurd.
Waktu
itu gue dengan ditemani salah satu anggota kelompok kami mencoba memberanikan
diri meminta acc untuk kesekian
kalinya ke bu sesil. Kami datang keruangan beliau sepelas pulang sekolah. Gue
inget pada waktu itu beliau sedang bersiap – siap akan pulang.
“permisi bu, maaf kami ingin meminta acc
laporan kerja praktikum untuk besok”
”saya mau pulang” jawab bu sesil ketus
“tapi bu.....”
”la kok maksa?besok saja, Saya mau pulang”
(dengan nada tingginya)
“tapi bu...., masalahnya besok itu praktikumnya
bu”
”.......”
(beliau melihat laporan kami) “masih salah, kurang sempurna”
“dari kemarin salah terus, kurang sempurna.
Asal ibu tau ya? Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan semata”(nggak ding,
mana mungkin gue berani ngomong kayak gitu. yang ada malah gue langsung di DO) “tapi bu......, yang salah itu dibagian mananya
ya?” (sambil melihat laporan kami)
“la kok kalian maksa? Besok saja, saya mau
pulang”
“ya sudah bu, terimakasih”
Sampai
besok laporan kami belum ter acc.
Kami merasa binggung, bimbang, dan bambang. Kami tak tau harus berbuat apa
lagi. Hingga sampai pada waktu praktikum, kami putuskan untuk langsung
mengerjakannya menurut langkah kerja yang telah kami tulis dilaporan yang
sebenarnya belum ter acc. bodo amat, kami nggak mikirin resikonya.
Kalau pun nanti kena semprot oleh bu
sesil, kami sudah pasrah. Sampai kami selesai praktikum, bu sesil tidak menaruh
rasa curiga terhadap kami (mungkin orangnya lupa). Kami serahkan hasil sediaan
yang kami buat beserta laporannya ke bu sesil, tidak ditemui kejanggalan yang
kami sembunyikan olehnya. Nampaknya Tuhan membantu kami. Bu sesil sama sekali
tidak tau bahwa laporan kami belum di acc,
dan langsung menerima tanpa pula mengecek laporannya. Jikalau sampai tau,
apalah jadinya kami hari itu. Mungkin kami pulang hanya tersisa jaslab saja (nggak ding). Makasih ya Allah.
**
Semua anak SMK pasti pernah ngerasain yang
namanya Prakerin atau orang awam sih
menyebutnya magang. Tak terkecuali gue. momen itu terjadi sebelum liburan
kenaikan kelas. Kami siswa kelas sebelas dihebohkan dengan pembagian tempat prakerin. Singkatnya gue dapat tempat prakerin di rumah sakit tentara. Gue
nggak sendirian. Setidaknya ada duapuluh anak yang akan prakerin disana, dan
gue adalah satu satunya anak paling ganteng dari dari duapuluh anak tersebut.
Yap, gue menjadi satu – satunya cowok yang akan prakerin disana.
Gue
ceritakan bahwa prakerin di rumah
sakit tentara itu ngeri – ngeri sedap.
Yah, hampir tiap hari (kecuali sabtu dan minggu) kita sebagai siswa magang wajib
ikut malaksanakan apel pagi bersama dengan para tentara. Nggak seperti waktu
disekolah yang kalo tiap apel atau upacara bisa clingak – clinguk ngerumpi sama teman cuy, disini bener – bener disiplin. Satu kali saja loe membuat
gerakan mencurigakan, loe bakal kena tembak tegur habis – habisan oleh
inspektur apel yang mulutnya kayak abis makan cabe. Pedes banget cuy.
Hari
pertama prakerin, gue merasa jadi
orang yang paling bego’ sedunia. Jujur gue nggak tau harus ngapain. Melihat
banyak resep obat dengan tulisan yang menyerupai sandi rumput membuat kepala
gue menjadi pusing, terlebih saat itu gue inget momennya sedang bulan puasa
yang membuat perut gue juga ikut – ikutan merasa pusing. Secara teori gue sih
pernah diajari cara membaca resep obat, namun
itu sangat berbanding terbalik dengan situasi ini cuy, hal yang gue temui ini bener – bener berbeda dengan apa yang
gue pelajari. Gue harus bisa mengartikan tulisan pada resep obat yang menurut
gue seperti coret – coretan anak tk.
Rasanya pengin banget mengutuk siapa yang menulis tulisan itu menjadi batu,
namun gue urungkan niat tersebut mengingat gue bukanlah ibunya malin
kundang(absurd). Gue selalu bertanya kepada kakak – kakak senior, tapi karena
kebanyakan tanya gue jadi sering kena omel. Gue sangat furstasi waktu itu.
Ingin rasanya prakerin ini cepat
selesai namun apa daya, baru satu hari gue disini dari enampuluh hari (dua
bulan) yang musti harus gue lewati. Minggu pertama gue jalani dengan sangat amburadul.
Minggu kedua, gue sudah mulai bisa beradaptasi
dengan lingkungan baru ini. Gue sudah bisa membaca sandi rumput (read: tulisan
resep obat), gue sudah bisa menghafal setiap nama - nama ruangan yang ada
disini, gue sudah bisa melakukan gerakan sikap lilin dengan bertumpu diatas
bola api (yang ini nggak ding, jangan
dibayangkan). Bisa dikatakan bahwa gue sudah profesional.
Yang
paling menyebalkan saat gue ikut prakerin adalah saat ada pasien yang
kebingungan dan kemudian bertanya atau meminta bantuan kepada gue. sebenarnya
sih nggak masalah, gue dengan senang hati membantu. Tapi yang jadi masalah
adalah caranya orang tersebut memanggil gue yang gue nggak suka. Kayak gini.
“maaf pak, saya mau tanya. Ruang anggrek
sebelah mana ya?”
“..................”
gue sedikit bingung “.....ba......pak...?”
“iya pak, ruang anggrek sebelah mana ya?”
ibu tersebut menegaskan kembali pertanyaannya.
Gue
langsung menunjukkan “oh iya bu, dari
sini ibu lurus saja. Mentok nanti ibu belok kekiri lalu ibu lurus agak jauh
mentok. Di gedung depan ibu itu ruang anggrek.”
“oh, terimakasih pak”
“hmmmm...???.....ba......pak....?”
Gue
heran kenapa gue bisa dipanggil bapak. Apa
yang salah pada diri gue? apakah gue waktu itu terlihat seperti duda berbadan
beranak dua sehingga mereka memanggil gue dengan sebutan bapak, gitu?.
Walapun agak sebel dengan panggilan itu, tapi tetap gue akan membantu pasien
dengan berpura – pura ramah. Nggak sampai disitu saja cuy, para co-ast yang lagi magang di
sini juga ikut – ikutan manggil gue dengan sebutan bapak. Kayak pernah suatu
ketika saat sedang jam makan siang, gue yang waktu itu lagi puasa memutuskan
untuk pergi sholat ketimbang melihat
teman – teman cewek sedang asyiknya makan karena sedang halangan yang membuat gue iri karena gue tidak bisa halangan. Selepas mengambil wudhu dan akan memulai sholat, tiba – tiba dari belakang ada
suara cewek memanggil gue yang belakangan gue ketahui mbak – mbak co-ast.
“abang, tungguin eneng” (loh kok eneng??? Salah – salah ralat) “pak, tungguin. Bapak jadi imam saya ”
“hm...? oh okeh” namun sejenak gue
berfikir kata – kata dari mbak – mbak co-ast
sedikit ambigu. Ingin gue tanyakan kepada mbak
– mbak co-ast tadi untuk meminta gue menjadi imam sholat atau menjadi imam keluarga. Absurd.
Sekali
lagi ada yang memanggil gue dengan sebutan bapak. Hampir gue batal puasa akibat
menahan emosi. Gue masih nggak mengerti. Sampai ke kost, gue terus berkaca
mencari tau apa yang membuat gue dipanggil bapak – bapak. Waktu itu gue
berdandan dengan style rambut klimis manis dengan sedikit berjenggot agar
terkesan lebih dewasa. Gue terinspirasi oleh wak doyok yang menurut gue waktu itu sangatlah keren. Yap, waktu
itu gue pengin berubah penampilan gue agar nggak terkesan kekanak – kanakan.
Mungkin ini penyebabnya. Gue putuskan untuk kembali berpenampilan urak – urakan. Gue juga memotong jenggot
karena jika gue amati lebih detail, bukannya terkesan lebih dewasa tapi gue
malah terlihat seperti kambing bandot. Anjir.
Waktu
itu gue ingat bulan puasa hampir mau selesai. Di waktu senggang Teman – teman
bercerita tentang agendanya selama empat hari libur kalender lebaran sambil
menunggu jadwal piket terbaru terbit. Semuanya bercerita dengan sangat antusias
hingga semuanya berubah akibat kehadiran jadwal piket terbaru. Yap, kami tidak
mendapatkan apa yang kami harapkan. Libur Cuma satu hari saja, itupun dihari
lebaran dan keesokannya kami harus berangkat lagi. Rencana liburan lebaran pun
gagal. Di prakerin ini kami benar –
benar dituntut untuk bekerja layaknya seorang pegawai sesungguhnya. Bedanya
kami sebagai anak magang dengan pegawai adalah jika pegawai mendapat gaji yang
berupa uang sedang kami mendapat gaji berupa nilai. Yap, nilai. Sesuatu yang
abstrak, yang tidak bisa dibelikan apapun namun ketiadaannya dapat membuat
raport semesteran kebakaran jenggot.
Nggak
kerasa sudah dua bulan gue prakerin dan
gue akan kembali kehabitat sebelumnya, sekolah. Ini hal yang paling tidak gue
inginkan, Kembali ke kebiasaan lama dengan berkutat pada praktikum dan laporan.
“Yah, mau gimana lagi bu emang waktunya
udah habis” kata – kata yang gue ucapkan saat ibu pembimbing prakerin nggak rela melepas kepergian
kami. Kami mengucapkan banyak terimakasih, tak lupa pula kami meminta maaf
karena sering kali kami bertindak merepotkan para senior. Setelah momen
mengharukan tersebut, kami berpamitan untuk pulang.
Kalo
dipikir – pikir, lebih enak prakerin dibanding
sekolah. Gue sudah nyaman ikut prakerin, nggak
ada lagi yang namanya tugas sekolah yang menyiksa secara lahir dan batin. Nggak
ada lagi yang namanya praktikum, laporan, dan sejenisnya. Nggak ada lagi ulangan beserta soulmatenya remidi. Terlebih lagi, dengan adanya prakerin waktu itu membantu gue untuk
menyibukkan diri, daripada dirumah melihat hujan dari balik kaca dengan benak
yang selalu bertanya tentang kenapa?
kenapa? dan kenapa?. alay loe bang (FYI, timeline pada waktu prakerin terjadi setelah chapter “jatuh hati, patah hati”).
**
Begitulah
duka – dukanya gue menjadi anak farmasi. Kagak ada sukanya cuy. Hidup gue yang sebelumnya tentram, damai, dan sentosa berubah
menjadi malapetaka. Gue dulunya masa bodoh dengan yang namanya sekolah sekarang
menjadi sangat study oriented. Tiap
hari gue belajar (ah, masak bang?bukannya
kalo ada ulangan aja abang belajarnya;
bisa aja loe neng) karena gue kagak mau ikut pengayaan** terus – terusan (**bahasa halusnya untuk ngulang atau remidi). Kenapa nggak suka ngulang bang? Karena gue tau sesuatu yang diulang
kembali takkan mungkin memiliki rasa yang sama seperti dulu lagi. nggak Cuma remidi sih, hal ini juga berlaku dalam
sebuah hubungan (anjir. please ya abang,
don’t make me feels). Balik ke topik, sangkin study oriented-nya, gue dulu nggak sempat buat mikirin diri gue
sendiri kayak buat potong bulu hidung pun dulu gue bener – bener nggak
kepikiran gitu. Bisa dibayangkan penampilan gue waktu dulu dengan bulu hidung
yang panjangnya hingga menyambung dengan bulu mata kayak manusia purba meganthropus paleojavanicus yang suka
makan kakus.
Nyesel pilih farmasi
bang?
Nggak,
sama sekali gue nggak menyesal memilih farmasi, walaupun gue masih heran kenapa
dulu gue memilih farmasi. Entah apa jadinya jika dulu gue memilih penerbangan,
mungkin sekarang gue jadi pilot, atau mungkin sekarang gue jadi pramusaji
pramugara, atau mungkin saja sekarang gue jadi tukang tambal ban pesawat. Nggak ada yang tau juga kan?. Tapi apa
boleh buat, gue udah terlajur terperosok dan terjerembab didalam farmasi. Sudah
tiga tahun gue habiskan didalam dunia ini. Akan sangat bodoh dan sia – sia jika
gue mundur, mengingat perjuangan berat yang telah gue lakukan untuk praktikum
dan laporannya.
Pernah berfikir buat
lintas jurusan gitu kalo udah lulus?
Pernah
sih, tapi gue urungkan niat itu. Disamping mungkin akan mendapat tentangan
hebat dari bokap nyokap, di farmasi inilah gue mulai menemukan kembali sebuah
cita – cita. Tujuan yang akan gue capai. Dibalik keputusan asal – asalan
memilih farmasi waktu dulu, gue yakin itu semua merupakan rencana dari Tuhan.
Gue yakin difarmasi inilah merupakan jalan hidup gue.Gue yakin difarmasi inilah
gue dapat rezeki. Dan gue yakin difarmasi inilah jodoh gue bertemu. Yap, Gue
suka kalimat yang terakhir.
Yap,
chapter ini merupakan tulisan terpanjang sekaligus terakhir dari gue yang akan
gue posting diblog ini. Jangan sedih dulu. Bukan berarti gue berhenti nulis,
itu kagak bener. Untuk cerita – cerita selanjutnya nggak akan gue posting, tapi
akan gue himpun bersama cerita – cerita kemarin menjadi sebuah buku. Yap betul,
akan dibukukan kisah hidup gue ini. Mudah – mudahan lancar prosesnya sehingga
paling cepat tahun depan bisa jadi (bantu
doannya ya), kalo nggak ada hambatannya. Sedikit spoiler, rencananya nama
buku yang akan gue buat diambil dari nama – nama tumbuhan bagian rimpang. Yang
bisa nebak akan gue traktir es cendol (nggak
ding). Oh, ya satu yang ketinggalan mulai tahun depan loe nggak bakal bisa
nemuin blog ini lagi karena rencananya mau gue tutup. Kenapa bang? Kan gue udah nggak nulis lagi di blog, dari pada blog
ini nggak ada kepastiannya mending gue tutup. Okeeh, trimakasih.
Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com
BalasHapusKelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
-Situs Aman dan Terpercaya.
- Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
- Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
- Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
- Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
-Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
- 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI
8 Permainan Dalam 1 ID :
Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66
Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
BBM: 2AD05265
WA: +855968010699
Skype: smsqqcom@gmail.com