cover

cover

23 Nov 2016

Become The Pharmacist




Pada momen cerita kali ini adalah momen yang paling krusial bagi gue. Ya, gue udah keluar dari sekolah celana biru tua dengan predikat lulus (hore.......!!!) dan gue akan melanjutkan untuk menikah menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Gue sempat bingung, bimbang, dan bambang saat menentukan kemana gue akan berlabuh karena gue nggak ada pikiran sama sekali buat ngelanjutin sekolah kemana setelah gue lulus. Banyak saran mengenai sekolah dari orang – orang sekitar yang gue tampung, banyak juga saran megenai lowongan menantu dari tetangga - tetangga sekitar yang juga gue tampung (nggak ding).

Bokap dan Nyokap menyarankan gue untuk melanjutkan sekolah ke luar kota dengan harapan gue bisa hidup lebih mandiri, gue setuju – setuju saja dengan saran Bokap Nyokap karena ini merupakan tantangan bagi gue, (gue suka hal – hal yang berbau menantang, kecuali menyalip emak – emak yang mengendarai motor matic) namun keputusan gue untuk dapat sekolah ke luar kota ditentang oleh simbah gue. Keputusan Bokap Nyokap buat menyekolahkan gue keluar kota dinilai oleh simbah sebagai hal yang tidak rasional karena simbah berpikiran bahwa gue masih anak – anak walaupun pada waktu itu bulu ketek gue bisa dibayangkan udah setebal kumisnya Pak Raden (nggak ding).
Simbah mengusulkan bahwa gue ikut dengannya ke Banten (simbah gue tinggal di Banten) dan masuk ke sekolah penerbangan yang ada disana. Sementara Bokap mengusulkan bahwa gue akan hidup mandiri di Semarang dan masuk ke sekolah Farmasi. Farmasi dan penerbangan, dua – duanya belum pernah tergambar sedikitpun dalam benak gue.
Gue menimbang – nimbang kedua pilihan tersebut, pilihan yang akan mempengaruhi masa depan gue. Gue renungkan hal – hal tersebut tiap kali pergi ke wc. Yah, menurut gue wc adalah tempat terbaik dalam menemukan sebuah solusi saat hidup loe penuh problem. Gue suka banget mikirin suatu hal yang akan gue lakuin ketika gue berada di wc. Kadang ketika sedang asik – asiknya ngeden secara nggak sengaja muncul begitu saja ide atau solusi yang sebelumnya benar – benar nggak kepikiran oleh gue. (Bang, kok jadi bahas masalah wc sih???) maaf, lanjut kecerita.
Setelah gue pikirkan secara matang, gue memutuskan untuk memilih Farmasi. (kenapa kok bisa pilih Farmasi bang?) alasannya adalah karena gue pengin hidup mandiri. Jika gue pilih usulan Simbah buat masuk ke penerbangan, secara otomatis gue akan tinggal bersama simbah dan itu pasti nggak membantu gue buat hidup mandiri. Alasan yang sangat simpel sekali, bahkan mungkin jika dipikirkan kembali cenderung alasan yang teramat bodoh. Sebegitu pendeknya pikiran gue waktu dulu memilih farmasi. Kalo diingat kembali gue kadang tertawa. Begitu polosnya gue waktu itu, belum tahu bahwa Farmasi adalah sebuah malapetaka terbesar yang akan menimpa hidup gue sampai sekarang ini.
Farmasi? Apaan tuh?
Gue sangat yakin dengan seyakin – yakinnya bahwa nggak bakal ada anak tk yang bisa menjawab “apa itu farmasi?” dan nggak bakal juga ada anak tk yang menjadikan farmasi sebagai cita – citanya. Jujur gue telah menggeluti bidang ini selama tiga tahun terakhir dan sampai sekarang masih belum mengerti apa itu farmasi yang sebenarnya. Dibutuhkan IQ tingkat dewa untuk menjewantahkan kata tersebut.
Kadang gue suka dibuat bingung untuk menjelaskan jika ditanya sama tetangga tentang sekolah gue.
 sekolah dimana mas?”
 SMK bu
 oh.., ambil jurusan apa mas?”
 jurusan Farmasi bu
 wow hebat ya, tapi ngomong – ngomong farmasi itu apa ya? Ibu nggak tau
njir.. “hmmm....., ” (gue binggung jelasinnya) “itu loh bu, yang jual obat di apotek
 ooo... jadi tukang obat yoh
 hmmm... bisa dibilang begitu” (muka agak sebel)
 kalo udah lulus, mampir kerumah ibu ya? Ketemu sama Mawar*” (*anaknya tetangga gue)
 “.......”  (dalam hati, njirrr what do you mean?) absurd.
Yah, tukang obat. Orang – orang awam lebih mengenal tukang obat ketimbang farmasi. Jadi kagak ada keren – kerennya gitu kalo dipanggil tukang obat. Misal saja temen gue tanya “bro, loe sekarang jadi apa?” gue jawab “tukang obat bro”. Anehkan jadinya?.
Gue juga suka binggung dengan persepsi masyarakat Indonesia yang menilai bahwa farmasi yang orang awam menyebutnya tukang obat hanya diisi oleh orang cina saja. persepsi ini bener – bener sangat rasis sob. Kayak, pernah suatu hari gue bertemu ibu – ibu dikereta waktu pulang dari Semarang yang ngomong begini.
 mas,.......
 “............” (gue hanya mengangguk sambil tersenyum)
 masnya turun dimana nanti?
 saya pulang ke pekalongan bu
 kerja di Semarang?”
 nggak bu saya masih sekolah, SMK
 kalo boleh tau jurusannya apa ya mas?
 farmasi
 oh.., yang nanti jadinya tukang obat. Tapi kok masnya bukan cina?”
njir “..... cina? Maksud ibu em.... gimananya? Saya nggak paham”
“ya udah nanti kalo udah lulus, mampir kerumah ibu ya? Ketemu sama Mawar”
 “..........???” njir, Ternyata ibu – ibu tadi adalah tetangga gue dulu. Absurd.
Gue sangat heran, kok bisa – bisanya ada anggapan bahwa farmasi hanya diisi orang cina saja, itu tukang obat cuy! Farmasi dan tukang obat adalah b-e-d-a. Dan anehnya, anggapan ini diperkuat oleh adanya iklan – iklan klinik alternatif sun go kong (you know what i mean) di tipi yang membuat masyarakat jadi semakin yakin. Padahal menurut survey yang gue lakukan sendiri, faktanya sembilan dari sepuluh petani dinegara cina adalah orang cina dan satu orang lainnya adalah mantan petani yang beralih profesi menjadi tukang obat. (dapet data dari mana loe bang?; udah percaya aja neng, nanti otakmu bucel - bucel). Absurd.
**
Sekolah di farmasi itu susah, susah, gampang tetep aja susah. Tiap hari ada ada saja tugas yang membuat pusing pala barbie gue. Laporan dan praktik sudah jadi santapan sehari – hari anak farmasi. Kena omel dari guru sudah seperti nyanyian yang biasa kita dengar sepanjang praktikum berlangsung. gue juga pernah, bahkan sering malah kena semprot oleh guru pengampu praktikum.
Gue inget praktikum resep pertama waktu itu, matahari bersinar sangat cerah membuat peluh keringat bercucuran. Laporan praktikum resep yang gue buat ternyata tidak sesuai dengan praktikum yang gue lakukan. Dan jika loe melihat meja gue waktu itu seperti terkena musibah bencana tsunami, porak poranda cuy. Gue inget keadaan gue waktu itu sedang kacau – kacaunya. Gue menimbang obat yang gue tak tahu betul apakah itu benar obat yang dimaksud atau mungkin itu racun sianida (nggak ding). Tiba – tiba tanpa ada suara langkah kaki, ibu guru datang kearah gue yang membuat pikiran gue menjadi buyar seketika. Ia bertanya.
 ini beratnya berapa ya mas?  
 ehm.... lima gram bu” (jawab gue dengan mengira – ngira)
 yakin ini lima gram?” (memasang tatapan curiga)
 ehm....... sebenernya kurang dikit sih bu
 kurang berapa?” (darahnya mulai naik ke ubun – ubun)
 ya kalo.... empat gram sih lebih bu” duh, alamat kena omel nih gue
 kamu itu nggak bakat jadi orang farmasi, kamu itu bakatnya jadi tukang lombok dipasar. Masak nimbang obat kayak nimbang lombok, Cuma dikira – kira. La kalo overdosis, pasienmu itu mati. Kamu mau tangggung jawab?
Sejenak gue mengambil nafas dalam – dalam. Gue hembuskan perlahan. Mencoba rileks. Mata gue melirik kesekitar. Pandangan teman – teman semua tertuju kearah gue. melihat ekspresi mukanya seperti orang yang nonton acara tipi tahan tawa dan bakal kena denda satu milyar kalo kelepasan ketawa. Dengan suksesnya gue kena marah oleh ibu guru sesepuh pengampu praktikum di lab resep tercinta ini.
Waktu itu gue cuma bisa jawab “he... he... he... ya maap bu” sambil mringis – mringis kayak orang idiot.
**
Momok yang paling menakutkan selain praktikum bagi anak – anak farmasi tidak lain dan tidak bukan adalah laporan. Laporan akan menjadi hal yang menyebalkan setelah diserahkan ke guru pembimbing dan dikembalikan dengan keadaan penuh coret – coretan bolpoin merah. Revisi menjadi suatu kegiatan yang wajar bagi anak farmasi dalam membuat laporan menjadi sempurna. Yap, sempurna. Puluhan kali sudah hanya untuk satu laporan saja pernah gue buat revisi (itu baru satu, laporan – laporan lainnya. Sudah tak terhingga lagi jumlahnya laporan – laporan gue direvisi). sudah sebanyak bulu ketek kucing, kertas yang gue gunakan untuk menulis ulang laporan yang direvisi tadi, dan sudah tak ternilai jumlahnya buku – buku referensi dengan berbagai macam bahasa telah gue baca meskipun pada akhirnya gue tidak tau artinya.
Untuk masalah revisi laporan, gue pernah punya pengalaman laporan gue ditolak tak terhingga sekali oleh guru pengampu praktium paling warbinazah di sekolah gue tercinta ini. Sebut saja dia ibu Sesil (bukan nama sebenarnya). Semua warga sekolah, terutama teman – teman gue seangkatan pasti taulah beliau. Tak ada seorangpun yang berani membicarakan beliau. Bahkan mendengar derap langkahnya pun membuat buluk kuduk kami ikut berdiri. Dengan menyebut nama beliau saja dapat mengheningkan seisi kelas yang tadinya ramai rusuh.  Ketika sedang dalam pembelajaran beliau, kami harus benar – benar fokus, perhatian mata hanya ditujukan kepada beliau semata, tidak ada satu pun dari kami yang berani gerak – gerak, tengok kanan – kiri, berbicara sama teman, bahkan untuk menguap sekalipun tak ada dari kami yang berani dan jika ada orang yang dengan sengaja maupun tidak sengaja melakukannya gue simpulkan bahwa hidupnya akan kelar pada hari itu juga. Selain itu ada mitos bahwa ketika sedang ujian dengan beliau sebagai pengawasnya, kita dianjurkan untuk tidak menapakkan kaki ke lantai agar dapat dengan sukses melakukan kegiatan contek – mencontek (jangan ditiru ya teman - teman) tanpa ketahuan olehnya, namun cara tersebut tidak akan berhasil dilakukan jika beliau tepat berada didepan loe yang lagi contek – contekan sama teman loe. Absurd.
 Dengan mengampu mata pelajaran obat alam yang membutuhkan kecerdasan tingkat dewa untuk memahaminya membuat kesan ibu Sesil ini semakin warbinazah dikalangan para siswa. Ditambah lagi jika beliau menjadi guru pembimbing praktikum loe, gue berani jamin selesainya laporan loe tidak akan semudah membalikan telapak kaki seekor gajah dewasa (nggak ding).
Gue inget pada waktu itu, tidak ada hujan tidak ada petir secara kebetulan bu Sesil menjadi guru pembimbing kelompok kami dalam praktikum pembuatan obat alam. Semua teman – teman riuh bergembira dan bahkan melakukan sujud syukur yang sebelum – sebelumnya hal ini tidak pernah dilakukan oleh mereka. Gue nggak tau alasan mengapa mereka sebegitu bahagianya hingga melakukan sujud syukur. Gue yang masih nggak mudeng dengan situasinya mencoba untuk ikut – ikutan bergembira. Bahkan sangkin gembiranya gue melakukan gerakan senam lantai yang malah jadi seperti orang yang sakit ayannya lagi kambuh. Belakangan gue ketahui bahwa mereka bergembira karena terhindari dari bu sesil sebagai guru pembimbingnya. Itu artinya secara nggak sengaja, dengan bodohnya gue telah merayakan kemalangan nasib yang akan segera menimpa gue.
Deadline laporan kerja praktikum adalah satu minggu atau artinya pada hari H praktikum laporan tersebut harus sudah jadi. Namun pada waktu itu selepas pulang sekolah, kami langsung mengerjakannya karena kami tau waktu seminggu itu tak akan cukup untuk membuat laporan yang sempurna, yap sempurna kayak kamu, iyah kamu(ah, abang bisa aja gombalnya).
Keesokan harinya kami meminta acc laporan ke bu sesil, dan hasilnya sudah bisa ditebak teman – teman? Yap, gagal. Wajarlah, karena rumor dari kakak – kakak kelas yang gue denger belum pernah ada satupun siswa yang langsung di acc laporannya oleh bu sesil hanya dalam satu kali percobaan. Minimalnya pasti pernah direvisi satu kali, itupun hanya pada siswa – siswa tertentu yang memiliki kecerdasan tingkat dewa (lah, kalo loe bang? Berapa kali?; sudah jangan ditanya lagi neng, biar bungkus kopi dan kantung mata abang yang menceritakannya). Tiap hari kami meminta acc laporan ke bu sesil dan tiap hari juga kami ditolak. Hingga pada H-1, laporan kami pun belum ter acc. Teman – teman satu kelompok sudah menyerah, bahkan ada yang sempet ngangis dan pengin bunuh diri. Namun gue mencoba menasehatinya bahwa jangan mati dahulu sebelum kawin. Dia mengurungkan niatnya, tapi malah mengajak gue buat kawin dan kemudian bunuh diri bersama (nggak ding). Absurd.
Waktu itu gue dengan ditemani salah satu anggota kelompok kami mencoba memberanikan diri meminta acc untuk kesekian kalinya ke bu sesil. Kami datang keruangan beliau sepelas pulang sekolah. Gue inget pada waktu itu beliau sedang bersiap – siap akan pulang.
permisi bu, maaf kami ingin meminta acc laporan kerja praktikum untuk besok
saya mau pulang” jawab bu sesil ketus
tapi bu.....
la kok maksa?besok saja, Saya mau pulang” (dengan nada tingginya)
tapi bu...., masalahnya besok itu praktikumnya bu
”.......” (beliau melihat laporan kami) “masih salah, kurang sempurna
dari kemarin salah terus, kurang sempurna. Asal ibu tau ya? Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan semata”(nggak ding, mana mungkin gue berani ngomong kayak gitu. yang ada malah gue langsung di DO) “tapi bu......, yang salah itu dibagian mananya ya?” (sambil melihat laporan kami)
la kok kalian maksa? Besok saja, saya mau pulang
ya sudah bu, terimakasih
Sampai besok laporan kami belum ter acc. Kami merasa binggung, bimbang, dan bambang. Kami tak tau harus berbuat apa lagi. Hingga sampai pada waktu praktikum, kami putuskan untuk langsung mengerjakannya menurut langkah kerja yang telah kami tulis dilaporan yang sebenarnya belum ter acc. bodo amat, kami nggak mikirin resikonya. Kalau pun nanti kena semprot oleh bu sesil, kami sudah pasrah. Sampai kami selesai praktikum, bu sesil tidak menaruh rasa curiga terhadap kami (mungkin orangnya lupa). Kami serahkan hasil sediaan yang kami buat beserta laporannya ke bu sesil, tidak ditemui kejanggalan yang kami sembunyikan olehnya. Nampaknya Tuhan membantu kami. Bu sesil sama sekali tidak tau bahwa laporan kami belum di acc, dan langsung menerima tanpa pula mengecek laporannya. Jikalau sampai tau, apalah jadinya kami hari itu. Mungkin kami pulang hanya tersisa jaslab saja (nggak ding). Makasih ya Allah.
**
 Semua anak SMK pasti pernah ngerasain yang namanya Prakerin atau orang awam sih menyebutnya magang. Tak terkecuali gue. momen itu terjadi sebelum liburan kenaikan kelas. Kami siswa kelas sebelas dihebohkan dengan pembagian tempat prakerin. Singkatnya gue dapat tempat prakerin di rumah sakit tentara. Gue nggak sendirian. Setidaknya ada duapuluh anak yang akan prakerin disana, dan gue adalah satu satunya anak paling ganteng dari dari duapuluh anak tersebut. Yap, gue menjadi satu – satunya cowok yang akan prakerin disana.
Gue ceritakan bahwa prakerin di rumah sakit tentara itu ngeri – ngeri sedap. Yah, hampir tiap hari (kecuali sabtu dan minggu) kita sebagai siswa magang wajib ikut malaksanakan apel pagi bersama dengan para tentara. Nggak seperti waktu disekolah yang kalo tiap apel atau upacara bisa clingak – clinguk ngerumpi sama teman cuy, disini bener – bener disiplin. Satu kali saja loe membuat gerakan mencurigakan, loe bakal kena tembak tegur habis – habisan oleh inspektur apel yang mulutnya kayak abis makan cabe. Pedes banget cuy.
Hari pertama prakerin, gue merasa jadi orang yang paling bego’ sedunia. Jujur gue nggak tau harus ngapain. Melihat banyak resep obat dengan tulisan yang menyerupai sandi rumput membuat kepala gue menjadi pusing, terlebih saat itu gue inget momennya sedang bulan puasa yang membuat perut gue juga ikut – ikutan merasa pusing. Secara teori gue sih pernah diajari cara membaca resep obat,  namun itu sangat berbanding terbalik dengan situasi ini cuy, hal yang gue temui ini bener – bener berbeda dengan apa yang gue pelajari. Gue harus bisa mengartikan tulisan pada resep obat yang menurut gue seperti coret – coretan anak tk. Rasanya pengin banget mengutuk siapa yang menulis tulisan itu menjadi batu, namun gue urungkan niat tersebut mengingat gue bukanlah ibunya malin kundang(absurd). Gue selalu bertanya kepada kakak – kakak senior, tapi karena kebanyakan tanya gue jadi sering kena omel. Gue sangat furstasi waktu itu. Ingin rasanya prakerin ini cepat selesai namun apa daya, baru satu hari gue disini dari enampuluh hari (dua bulan) yang musti harus gue lewati. Minggu pertama gue jalani dengan sangat amburadul.
 Minggu kedua, gue sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Gue sudah bisa membaca sandi rumput (read: tulisan resep obat), gue sudah bisa menghafal setiap nama - nama ruangan yang ada disini, gue sudah bisa melakukan gerakan sikap lilin dengan bertumpu diatas bola api (yang ini nggak ding, jangan dibayangkan). Bisa dikatakan bahwa gue sudah profesional.
Yang paling menyebalkan saat gue ikut prakerin adalah saat ada pasien yang kebingungan dan kemudian bertanya atau meminta bantuan kepada gue. sebenarnya sih nggak masalah, gue dengan senang hati membantu. Tapi yang jadi masalah adalah caranya orang tersebut memanggil gue yang gue nggak suka. Kayak gini.
maaf pak, saya mau tanya. Ruang anggrek sebelah mana ya?
“..................” gue sedikit bingung “.....ba......pak...?”
iya pak, ruang anggrek sebelah mana ya?” ibu tersebut menegaskan kembali pertanyaannya.
Gue langsung menunjukkan “oh iya bu, dari sini ibu lurus saja. Mentok nanti ibu belok kekiri lalu ibu lurus agak jauh mentok. Di gedung depan ibu itu ruang anggrek.
oh, terimakasih pak
hmmmm...???.....ba......pak....?
Gue heran kenapa gue bisa dipanggil bapak. Apa yang salah pada diri gue? apakah gue waktu itu terlihat seperti duda berbadan beranak dua sehingga mereka memanggil gue dengan sebutan bapak, gitu?. Walapun agak sebel dengan panggilan itu, tapi tetap gue akan membantu pasien dengan berpura – pura ramah. Nggak sampai disitu saja cuy, para co-ast yang lagi magang di sini juga ikut – ikutan manggil gue dengan sebutan bapak. Kayak pernah suatu ketika saat sedang jam makan siang, gue yang waktu itu lagi puasa memutuskan untuk pergi sholat ketimbang melihat teman – teman cewek sedang asyiknya makan karena sedang halangan yang membuat gue iri karena gue tidak bisa halangan. Selepas mengambil wudhu dan akan memulai sholat, tiba – tiba dari belakang ada suara cewek memanggil gue yang belakangan gue ketahui mbak – mbak co-ast.
abang, tungguin eneng” (loh kok eneng??? Salah – salah ralat) “pak, tungguin. Bapak jadi imam saya
hm...? oh okeh” namun sejenak gue berfikir kata – kata dari mbak – mbak co-ast sedikit ambigu. Ingin gue tanyakan kepada mbak – mbak co-ast tadi untuk meminta gue menjadi imam sholat atau menjadi imam keluarga. Absurd.
Sekali lagi ada yang memanggil gue dengan sebutan bapak. Hampir gue batal puasa akibat menahan emosi. Gue masih nggak mengerti. Sampai ke kost, gue terus berkaca mencari tau apa yang membuat gue dipanggil bapak – bapak. Waktu itu gue berdandan dengan style rambut klimis manis dengan sedikit berjenggot agar terkesan lebih dewasa. Gue terinspirasi oleh wak doyok yang menurut gue waktu itu sangatlah keren. Yap, waktu itu gue pengin berubah penampilan gue agar nggak terkesan kekanak – kanakan. Mungkin ini penyebabnya. Gue putuskan untuk kembali berpenampilan urak – urakan. Gue juga memotong jenggot karena jika gue amati lebih detail, bukannya terkesan lebih dewasa tapi gue malah terlihat seperti kambing bandot. Anjir.
Waktu itu gue ingat bulan puasa hampir mau selesai. Di waktu senggang Teman – teman bercerita tentang agendanya selama empat hari libur kalender lebaran sambil menunggu jadwal piket terbaru terbit. Semuanya bercerita dengan sangat antusias hingga semuanya berubah akibat kehadiran jadwal piket terbaru. Yap, kami tidak mendapatkan apa yang kami harapkan. Libur Cuma satu hari saja, itupun dihari lebaran dan keesokannya kami harus berangkat lagi. Rencana liburan lebaran pun gagal. Di prakerin ini kami benar – benar dituntut untuk bekerja layaknya seorang pegawai sesungguhnya. Bedanya kami sebagai anak magang dengan pegawai adalah jika pegawai mendapat gaji yang berupa uang sedang kami mendapat gaji berupa nilai. Yap, nilai. Sesuatu yang abstrak, yang tidak bisa dibelikan apapun namun ketiadaannya dapat membuat raport semesteran kebakaran jenggot.
Nggak kerasa sudah dua bulan gue prakerin dan gue akan kembali kehabitat sebelumnya, sekolah. Ini hal yang paling tidak gue inginkan, Kembali ke kebiasaan lama dengan berkutat pada praktikum dan laporan. “Yah, mau gimana lagi bu emang waktunya udah habis” kata – kata yang gue ucapkan saat ibu pembimbing prakerin nggak rela melepas kepergian kami. Kami mengucapkan banyak terimakasih, tak lupa pula kami meminta maaf karena sering kali kami bertindak merepotkan para senior. Setelah momen mengharukan tersebut, kami berpamitan untuk pulang.
Kalo dipikir – pikir, lebih enak prakerin dibanding sekolah. Gue sudah nyaman ikut prakerin, nggak ada lagi yang namanya tugas sekolah yang menyiksa secara lahir dan batin. Nggak ada lagi yang namanya praktikum, laporan, dan sejenisnya. Nggak ada lagi ulangan beserta soulmatenya remidi. Terlebih lagi, dengan adanya prakerin waktu itu membantu gue untuk menyibukkan diri, daripada dirumah melihat hujan dari balik kaca dengan benak yang selalu bertanya tentang kenapa? kenapa? dan kenapa?. alay loe bang (FYI, timeline pada waktu prakerin terjadi setelah chapter “jatuh hati, patah hati”).
**
Begitulah duka – dukanya gue menjadi anak farmasi. Kagak ada sukanya cuy. Hidup gue yang sebelumnya tentram, damai, dan sentosa berubah menjadi malapetaka. Gue dulunya masa bodoh dengan yang namanya sekolah sekarang menjadi sangat study oriented. Tiap hari gue belajar (ah, masak bang?bukannya kalo ada ulangan aja abang belajarnya; bisa aja loe neng) karena gue kagak mau ikut pengayaan** terus – terusan (**bahasa halusnya untuk ngulang atau remidi). Kenapa nggak suka ngulang bang? Karena gue tau sesuatu yang diulang kembali takkan mungkin memiliki rasa yang sama seperti dulu lagi. nggak Cuma remidi sih, hal ini juga berlaku dalam sebuah hubungan (anjir. please ya abang, don’t make me feels). Balik ke topik, sangkin study oriented-nya, gue dulu nggak sempat buat mikirin diri gue sendiri kayak buat potong bulu hidung pun dulu gue bener – bener nggak kepikiran gitu. Bisa dibayangkan penampilan gue waktu dulu dengan bulu hidung yang panjangnya hingga menyambung dengan bulu mata kayak manusia purba meganthropus paleojavanicus yang suka makan kakus.
Nyesel pilih farmasi bang?
Nggak, sama sekali gue nggak menyesal memilih farmasi, walaupun gue masih heran kenapa dulu gue memilih farmasi. Entah apa jadinya jika dulu gue memilih penerbangan, mungkin sekarang gue jadi pilot, atau mungkin sekarang gue jadi pramusaji pramugara, atau mungkin saja sekarang gue jadi tukang tambal ban pesawat. Nggak ada yang tau juga kan?. Tapi apa boleh buat, gue udah terlajur terperosok dan terjerembab didalam farmasi. Sudah tiga tahun gue habiskan didalam dunia ini. Akan sangat bodoh dan sia – sia jika gue mundur, mengingat perjuangan berat yang telah gue lakukan untuk praktikum dan laporannya.
Pernah berfikir buat lintas jurusan gitu kalo udah lulus?
Pernah sih, tapi gue urungkan niat itu. Disamping mungkin akan mendapat tentangan hebat dari bokap nyokap, di farmasi inilah gue mulai menemukan kembali sebuah cita – cita. Tujuan yang akan gue capai. Dibalik keputusan asal – asalan memilih farmasi waktu dulu, gue yakin itu semua merupakan rencana dari Tuhan. Gue yakin difarmasi inilah merupakan jalan hidup gue.Gue yakin difarmasi inilah gue dapat rezeki. Dan gue yakin difarmasi inilah jodoh gue bertemu. Yap, Gue suka kalimat yang terakhir.

Yap, chapter ini merupakan tulisan terpanjang sekaligus terakhir dari gue yang akan gue posting diblog ini. Jangan sedih dulu. Bukan berarti gue berhenti nulis, itu kagak bener. Untuk cerita – cerita selanjutnya nggak akan gue posting, tapi akan gue himpun bersama cerita – cerita kemarin menjadi sebuah buku. Yap betul, akan dibukukan kisah hidup gue ini. Mudah – mudahan lancar prosesnya sehingga paling cepat tahun depan bisa jadi (bantu doannya ya), kalo nggak ada hambatannya. Sedikit spoiler, rencananya nama buku yang akan gue buat diambil dari nama – nama tumbuhan bagian rimpang. Yang bisa nebak akan gue traktir es cendol (nggak ding). Oh, ya satu yang ketinggalan mulai tahun depan loe nggak bakal bisa nemuin blog ini lagi karena rencananya mau gue tutup. Kenapa bang? Kan gue udah nggak nulis lagi di blog, dari pada blog ini nggak ada kepastiannya mending gue tutup. Okeeh, trimakasih.



1 komentar:

  1. Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com

    Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
    -Situs Aman dan Terpercaya.
    - Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
    - Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
    - Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
    - Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
    -Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
    - 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI

    8 Permainan Dalam 1 ID :
    Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66

    Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
    BBM: 2AD05265
    WA: +855968010699
    Skype: smsqqcom@gmail.com

    BalasHapus