Pernakah dalam hidup
loe mengalami hal – hal yang membuat loe ngerasa sedih atau membuat orang lain
ngerasa sedih gara – gara loe. Pasti semua orang pernah merasakannya (iya kan? Ngaku aja loe) tak terkecuali
gue. kali ini gue akan menceritakan pengalaman yang kadang membuat gue merasa
sedih dalam hidup gue yang udah menyedihkan ini. Harap siapkan tisu
sebelum baca dan jangan ketawa karena ketawa loe membuat hati yang sedang sedih
ini tambah sedih (alay).
Yang pertama,
Pernahkah suatu ketika loe berkunjung ke rumah
saudara loe terus loe disuguhkan oleh kaleng wafer yang pas loe buka itu isinya
adalah emping. Nah gue pernah. Waktu itu gue sekeluarga ada bokap, nyokap, dan
adek gue bersilahturahmi ke rumah kakak dari nyokapnya bokap gue.(berati siapanya gue ya? Duh Jadi bingung,
ada yang bisa jawab mungkin?) gue masih inget hari itu bertepatan dengan
Idul Fitri. Yap momen yang pas memang buat silahturahmi ke rumah saudara –
saudara. Gue inget saat itu Bokap mengetuk pintu rumah kakak dari nyokapnya
bokap gue dengan sangat berirama, rumahnya begitu sepi walaupun pada saat itu
suasana ramai merayakan Idul fitri, yang ada hanya pepohonan mangga yang rimbun
buahnya. (Mungkin jika gue khilaf bisa
jadi tuh buah mangga udah nggak tergantung lagi di pohonnya.). sesaat
kemudian seorang pria tua membukakan pintu yang tadi bokap gue ketuk. Bokap
langsung berjabat tangan dengannya di susul dengan nyokap, gue, dan adek. Pria
tua itu mempersilahkan kami untuk masuk kerumahnya. Bokap memperkenalkan kepada
kita bahwa pria tua itu merupakan pamannya. Bokap bercerita kapada kami tentang
hubungannya dengan paman bokap dahulu saat masa kecil bokap. Suasana pada saat
itu sangat hangat, jarang gue merasakannya. Berbagai candaan terlontar bibir
paman bokap khas dengan suara lansianya yang hanya terdengar seperti dengung
tanpa tahu maksudnya. Sempet gue bingung paman bokap ngomong apa dan hanya bisa
ikut ikutan ketawa tanpa tahu maksudnya. Namun lama kelamaan gue ngerti juga
apa maksud dari perkataan paman bokap yang hanya bisa dengung itu.(gue orang yang mudah untuk beradaptasi, tak
terkecuali adaptasi dengan suara dengung paman bokap). Nah dari itu gue
tahu bahwa paman bokap sedang sedih karena cucunya sedang sakit dirawat di
rumah sakit. Cucunya terkena DBD.
Semua keluarga ada dirumah sakit menjaga cucu paman bokap kecuali paman bokap
yang menunggu dirumah karena takut jika dirumah kedatangan tamu namun tak ada
orangnya.
Lelah bercengkrama
panjang lebar, paman bokap menyuguh dengan teh hangat dan beberapa jajanan yang
saat itu langsung ku serbu dengan biadap. (maklumlah.
di keluarga gue, gue dikenal dengan alat penghabis makanan berjalan) saat
itu gue mengambil kaleng wafer coklat, (perlu
diketahui wafer adalah salah satu camilan kesukaan gue, jadi jika ingin membeli
wafer jauhkan dari jangkauan gue. Warning!!!!!...
nggak ding)
Saat itulah tiba –
tiba........., kejadian yang tidak terkira, tidak terprediksikan, tidak
terduga, dan tidak terlupakan dalam hidup gue, yang merenggut senyuman dalam
bibir dan menggantikannya dengan kesedihan, yang jika diingat disitu kadang saya merasa sedih pun
terjadi (alay). Gue membuka kaleng
wafer itu dan ternyata .....jeng...jeng...jeng...
isinya itu adalah emping. Sumpah demi Tuhan, gue nggak pernah ngira bahwa
tuh kaleng wafer coklat isinya itu emping. Dengan terpaksa gue mengambil dan
mencoba untuk memakan emping itu karena paman bokap melihat ke arah gue dengan
pandangan yang penuh harapan. Dia bercerita bahwa emping itu adalah buatannya
sendiri. Paman bokap juga bercerita tentang hobinya yang suka buat jajanan –
jajanan tradisional ya seperti emping tadi. Kesialan gue masih terus berlanjut,
saat gue makan empingnya ternyata melempem. Saat itu gue sangat menderita
sekali, suer!!!. Gue harus berjuang sekuat tenaga gigi gue untuk
menghabiskan emping yang melempem itu agar tidak menyakiti perasaan paman
bokap. (moment ini menjadi moment
perjuangan gue yang paling tragis tau) kalo di inget – inget gue kadang
merasa sedih. Mungkin kalo orang lain yang makan itu emping, pasti orang lain
yang makan itu emping langsung keselek muntah – muntah dan pasti membuat
perasaan paman bokap menjadi kecewa, gue
yakin banget tuh. Tapi menurut gue tak masalah lah, gue memaklumi mungkin
paman bokap buat tuh emping dengan rasa sedih karena cucunya yang sedang sakit
tadi. Tapi Secara gitu loh, di
suasana yang harusnya bahagia kayak Idul Fitri ini harus ada yang sedih karena
sakit hingga tidak bisa merayakan momen bahagia ini. Disitu Kadang Saya Merasa Sedih.
Kedua,
Kali ini gue diminta
nenek untuk menemaninya ke kondangan temennya. Tanpa berpikir panjang, gue
langsung menerima ajakannya. Saat itu yang terlintas dipikiran gue adalah di
tempat kondangan pasti banyak makanan yang melimpah dan ini momen yang tepat
buat icip – icip kayak di acara tipinya pak
Bondan. Kita pun langsung berangkat kesana.
Sampai di tempat
kondangan, dugaan gue bener adanya. Semua jenis makanan ada disana, siap untuk
gue sergap dengan lahap. Namun pada waktu itu gue menahan diri terlebih dahulu
karena tidak etis jika belum bertemu si yang punya hajat namun udah main makan
makanannya. Gue dan nenek gue bertemu dengan teman nenek yang punya hajat. Kami
berjabat tangan dan dipersilahkan untuk masuk kedalam dan duduk ala lesahan yang beralaskan tikar. Gue masih
ingat bahwa itu acara sunatan cucunya teman nenek gue. si cucu dari teman nenek
ini menangis terus – terusan. Sesekali ibunya menenangkan sambil mengkipasi tititnya yang baru saja dipotong itu.
Selidik punya selidik si cucu menangis bukan karena menahan sakit di tititnya itu, namun karena malu tititnya dipajang, dan diperlihatkan
kesemua orang yang ada dikondangan sebagai bukti bahwa acara khitan ini memang
benar ada yang menjadi korban khitan ini. Nah beberapa saat kemudian
kami dipersilahkan untuk makan hidangan yang telah disediakan oleh yang punya
hajat. Kita mengambil makanan sendiri.(jadi
sistemnya kayak prasmanan gitu). Kita mengantri untuk mengambil makanan.
Antrian makanan ini sangat panjang, bahkan sampai keluar ke tempat kondangan. (gile, buat makan aja susahnya begini).
Giliran kita pun
tiba, nenek mengambil nasi secukupnya. Kira – kira satu piring pun tak ada.
Berbanding terbalik dengan gue yang mengambil nasi dengan porsi se-gunung kembar yang membuat orang yang
dibelakang gue frustasi banting piring karena nasi abis. Nenek mengambil lauk
dengan memilih – milih, dia hanya mengambil sayur – sayuran, berbeda dengan gue
yang mengambil semua lauk pauk yang ada. Di stand lauk pauk daging – dagingan
gue bingung mau mengambil yang mana. Gue ingat waktu itu ada ayam, telor, ikan,
dan rendang. Karena kelihatannya enak semua, gue memutuskan untuk mengambil
semua lauk itu. Et...... gue dicegah
oleh mbak – mbak yang jaga stand tadi. Dia bilang bahwa hanya boleh mengambil
satu saja karena agar tamu yang lain bisa kebagian. Gue jadi bingung harus memilih yang mana. Sempat berfikir lama yang
menyebabkan antrian makin panjang dan parah, gue memutuskan untuk mengambil
rendang yang hanya tinggal satu di tempatnya. Mengapa ? karena ayam, telor, dan ikan udah biasa gue makan. Jika
gue meminta nyokap buat memasak rendang, nyokap selalu bilang “nanti nunggu lebaran”. Yap gue makan
rendang hanya setahun sekali saja tepatnya lebaran, itupun kalo dapet pemberian
dari kurban.(kok jadi curhatnya v_v).
Rendang yang gue pilih ini adalah rendang terbesar yang pernah gue lihat (suer
dah....!!! gue kagak bo’ong),
mungkin ini rendang bisa masuk rekor muri
karena sanking gedenya itu.
Gue dan nenek siap
untuk menyantap hidangan yang telah kita ambil tadi sambil di temani oleh teman
nenek yang punya hajat. Gue langsung menyerbu makanan yang gue ambil tadi. Dan
yang terjadi ketika gue makan, ... jeng.....jeng....jeng..... sial
bener gue kena jebakan betmen. ternyata rendang yang gue ambil itu adalah lengkuas.
Gue sempet pengin muntahin tadi, namun lagi – lagi pandangan itu muncul.
Pandangan yang sama ketika gue makan emping melempem dirumah paman bokap. Teman nenek yang punya hajat ini memandangi
gue dengan sorotan mata yang penuh harap. Berharap para tamunya sangat
menikmati hidangan yang telah dibuat oleh teman nenek yang punya hajat, Dan
akan membuat sedih si punya hajat ketika gue mengaku bahwa rendang yang
dihidangkan bukanlah dari daging melainkan lengkuas. Untuk kedua kalinya dalam
hidup gue terpaksa menderita makan rendang yang ternyata lengkuas setelah
pernah terpaksa menderita karena makan emping yang ternyata melempem. Dengan
daya dan upaya, gue sekuat tenaga menelan secara sengaja lengkuas bumbu rendang itu. Entah apa yang akan terjadi setelah gue
makan lengkuas bumbu rendang itu, gue
tidak tahu. Gue sempat berfikir akan membuat surat wasiat, jikalau nanti
terjadi apa – apa setelah memakan makanan tak lazim itu. Gue mencoba untuk
tidak membuat sedih dan malu si yang punya hajat kepada tamu lain karena ada complain rendang yang diambil salah satu
tamunya merupakan lengkuas. Pada waktu itu gue sempat ditanya
Si
punya hajat : ”masakannya enak mas?”
Gue : “iya bu, masakannya enak”
Tepat
pada detik itu gue menjadi orang yang pertamakali dalam sejarah dunia yang
mengakui bahwa lengkuas berbumbu rendang merupakan makanan yang enak.(absurd).
Jika
gue inget tentang kenangan itu, disitu
kadang saya merasa sedih. Gue membayangkan betapa sedihnya jika ada
seseorang yang mengambil rendang yang ternyata lengkuas itu. Bagaimana jika
orang tersebut complain kepada si
punya hajat?, pasti akan membuat malu si punya hajat didepan para tamu lain.
Terlepas dari itu semua gue juga memikirkan bagaimana perasaan cucu si punya
hajat yang malu. Gimana nggak malu? Tititnya
jadi barang tontonan para tamu yang datang. Gue sempet melihat tititnya, Aduh kasihan, udah kecil harus dipotong lagi.
Untung pas waktu gue disunat, titit gue nggak jadi pajangan waktu bokap ngadain
hajatan sunatan gue. untung
saja..........
Ketiga,
Ceritanya
gue udah jadi anak kost, gue ngekost karena untuk menggapai cita – cita yang gue
impikan bokap gue impikan. Yup, bokap gue pengin salah satu anaknya jadi
apoteker. Melihat dari kedua anaknya menurut bokap, karena adek gue yang paling
tidak meyakinkan untuk jadi apoteker maka gue-lah yang harus mewujudkan cita –
cita bokap untuk menjadi apoteker. Gue disekolahkan di salah satu SMK terkenal
di kota semarang untuk menjadi seorang apoteker. Gue menuruti keinginan bokap
karena gue bingung mau jadi apa kelak. Jujur gue sampai sekarang nggak
kepikiran tujuan hidup gue apa? Hidup gue
untuk apa? dan Cita – cita gue apa?
Gue kehilangan cita – cita ketika gue tahu bahwa cita – cita yang selama ini
gue impi - impikan itu nggak keren. Gue dulu ketika masih TK ditanya oleh ibu
guru apakah cita – cita gue, gue menjawabnya gue pengin jadi superman. menurut gue pada waktu itu superman hal yang sangat keren. Bisa
membantu orang, mengalahkan musuh, membasmi kejahatan, merupakan hal yang
sangat keren di benak gue waktu kecil. Obsesi itu yang menuntun gue ingin
menjadi superman. Namun seiring
berjalannya waktu gue berfikir bahwa superman
tidak lagi keren dalam benak gue. apa
kerennya sob? Seseorang pria kekar yang memakai kostum dengan celana dalam
diluar, kerennya dari mana? itu malah
kayak orang gila. dan yang mengherankan lagi, Kenapa dulu waktu kecil gue begok? Menjadikan si pemakai celana
dalam di luar itu menjadi cita – cita gue.(aduh....
parah).
Gue
inget sore itu gue baru saja pulang sekolah. Gue pulang dengan perut yang
memberontak. Hal itu menjadi keadaan yang sudah biasa bagi kami sebagai anak
kost. Gue pulang dengan buru – buru karena perut udah keburu laper. Sasampai di
kost-an, gue lupa bahwa di kost nggak ada apa – apa. Nggak ada apapun yang bisa
gue makan, Yang ada hanya batu dan rumput yang bergoyang.(alay). Gue putuskan untuk pergi ke warteg buat makan, namun gue
urungkan melihat status finansial gue yang tidak memungkinkan.(read: lagi bokek....kagak punya duit,
maklumlah tanggal tua) gue lihat di dompet gue yang akhir – akhir ini meng-kurus, duit gue tinggal tiga ribu
perak doang. Bokap udah janji mau kirim uang besok pagi. Gue berfikir keras. Makan apa yang bisa membuat kenyang dengan
uang tiga ribu perak?kayaknya nggak ada deh yang bisa bikin kenyang dengan
modal tiga ribu. Kalo gue beliin nasi kucing Cuma dapat dua biji, itu nggak
bisa bikin kenyang Cuma bisa nyelilit di sela – sela gigi gue. a...ha....gue menemukan sebuah ide.
Karena dikost ada kompor, Gue memutuskan untuk beli mie goreng. Lumayan dengan
uang tiga ribu perak bisa dapet dua. Ya mungkin nggak bisa bikin kenyang nih
perut, tapi setidaknya bisa nahan laper gue sampe besok kiriman duit gue
datang.
Gue
pergi ke toko kelontong yang jual mie. Gue beli mie goreng dua biji. Gue masak
tuh mie. Dan disinilah malapetaka menghadang gue. sewaktu gue menyalakan
kompor, ternyata eh ternyata gas dari
kompor itu habis. (gimana kalo loe jadi
gue sob? Nyesek nggak?). gue harus gimana lagi?, udah laper berat, rasanya
perih, sakitnya tuh disini(nunjuk perut).
Sumpah waktu itu gue bingung bukan kepalang. Uang gue udah abis-is-is. Udah gue
beliin mie goreng dua biji. Jujur gue sempet mau nangis waktu itu, gue
frustasi, gue menyesal duit gue habisin buat beli martabak spesial loyang besar
dan sprite satu setengah liter
kemarin malam. Yap, kemarin malam gue bersenang – senang nge-fly bersama dua barang itu. Tak perlu
narkoba ataupun ganja untuk nge-fly
sob. Cukup dengan martabak dan sprite bisa
membuat mabuk kepayang tanpa menimbulkan efek berkelanjutan.(patut dicoba jika loe pecinta martabak).
Gue berdoa kepada Tuhan dengan nangis – nangis (jujur ini pertama kalinya gue
berdoa dengan seserius ini). Gue waktu itu sangat terpuruk. Gue berdoa “ya Tuhan, turunkanlah keajaiban mu kepada
hamba-Mu yang sedang terpuruk ini. ya Tuhan ku yang maha pengasih lagi maha
pemurah, turunkanlah pertolongan-Mu kepada hamba selayaknya Engkau menolong Hamba
yang lain. Maafkanlah hamba yang telah khilaf ya Tuhan, yang telah bersenang
senang dengan martabak itu tanpa menghiraukan betapa kurusnya dompet hamba.”
Selang
beberapa menit kemudian, seseorang datang mengetuk pintu kost. Tak ada
seseorang waktu itu kecuali gue. gue membukakan pintu. Oh.... tanpa disangka,
orang itu mengantarkan nasi kotak. Dia membagikan makanan karena sedang
mengadakan hajatan. Dia bilang ini untuk pak kost, tetapi gue menjawab bahwa
pak kost tidak ada dirumah jadi nasi kotak itu buat gue. (ye.... doa gue terjawab oleh Tuhan, makasih Tuhan).
Akhirnya
gue malem itu bisa makan juga, gue terharu sekali. Kalo gue ingat – ingat disitu kadang saya merasa sedih. Gue
terlalu bodoh, menghambur – hamburkan uang dengan kesenangan yang hanya sekejap
saja(read:martabak). Dari kejadian di
hari itu gue sekarang jadi bijak dalam menggunakan isi dompet gue.
Sebenernya
sih masih banyak lagi hal – hal yang disitu
kadang saya merasa sedih, kayak akhir – akhir ini sikap cewek gue jadi
berubah. Gue nggak tau kenapa, apa yang salah dari diri gue (mungkin gue banyak salahnya). Sempet
kehilangan kontak beberapa waktu. Dan gue juga punya begitu padatnya urusan
yang malah jadi beban masalah dalam hidup gue. tugas disekolah gue mendadak
full yang membuat pala gue serasa mau pecah. Gue depresi berat, sampe – sampe
gue nggak megang hp yang membuat nyokap marah – marah karena telfon darinya
nggak gue angkat.
Pengin
sih cerita lebih banyak lagi, tapi yang ada malah ceritanya nggak selesai –
selesai dan gue tambah sedih keinget hal – hal yang menyedihkan dalam hidup gue
yang udah menyedihkan ini. gue sempetin nulis ini karena buat menghibur
hati gue sendiri yang lagi sedih. Mudah-mudahan yang baca tulisan ini mengerti
kesedihan gue dan mudah – mudahan setelah baca tulisan ini nggak malah jadi
sedih. Sampai tulisan ini berakhir gue masih sedih.

Tidak ada komentar
Posting Komentar