cover

cover

23 Feb 2015

Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih







Pernakah dalam hidup loe mengalami hal – hal yang membuat loe ngerasa sedih atau membuat orang lain ngerasa sedih gara – gara loe. Pasti semua orang pernah merasakannya (iya kan? Ngaku aja loe) tak terkecuali gue. kali ini gue akan menceritakan pengalaman yang kadang membuat gue merasa sedih dalam hidup gue yang udah menyedihkan ini. Harap siapkan tisu sebelum baca dan jangan ketawa karena ketawa loe membuat hati yang sedang sedih ini tambah sedih (alay).

Yang pertama,
 Pernahkah suatu ketika loe berkunjung ke rumah saudara loe terus loe disuguhkan oleh kaleng wafer yang pas loe buka itu isinya adalah emping. Nah gue pernah. Waktu itu gue sekeluarga ada bokap, nyokap, dan adek gue bersilahturahmi ke rumah kakak dari nyokapnya bokap gue.(berati siapanya gue ya? Duh Jadi bingung, ada yang bisa jawab mungkin?) gue masih inget hari itu bertepatan dengan Idul Fitri. Yap momen yang pas memang buat silahturahmi ke rumah saudara – saudara. Gue inget saat itu Bokap mengetuk pintu rumah kakak dari nyokapnya bokap gue dengan sangat berirama, rumahnya begitu sepi walaupun pada saat itu suasana ramai merayakan Idul fitri, yang ada hanya pepohonan mangga yang rimbun buahnya. (Mungkin jika gue khilaf bisa jadi tuh buah mangga udah nggak tergantung lagi di pohonnya.). sesaat kemudian seorang pria tua membukakan pintu yang tadi bokap gue ketuk. Bokap langsung berjabat tangan dengannya di susul dengan nyokap, gue, dan adek. Pria tua itu mempersilahkan kami untuk masuk kerumahnya. Bokap memperkenalkan kepada kita bahwa pria tua itu merupakan pamannya. Bokap bercerita kapada kami tentang hubungannya dengan paman bokap dahulu saat masa kecil bokap. Suasana pada saat itu sangat hangat, jarang gue merasakannya. Berbagai candaan terlontar bibir paman bokap khas dengan suara lansianya yang hanya terdengar seperti dengung tanpa tahu maksudnya. Sempet gue bingung paman bokap ngomong apa dan hanya bisa ikut ikutan ketawa tanpa tahu maksudnya. Namun lama kelamaan gue ngerti juga apa maksud dari perkataan paman bokap yang hanya bisa dengung itu.(gue orang yang mudah untuk beradaptasi, tak terkecuali adaptasi dengan suara dengung paman bokap). Nah dari itu gue tahu bahwa paman bokap sedang sedih karena cucunya sedang sakit dirawat di rumah sakit. Cucunya terkena DBD. Semua keluarga ada dirumah sakit menjaga cucu paman bokap kecuali paman bokap yang menunggu dirumah karena takut jika dirumah kedatangan tamu namun tak ada orangnya.
Lelah bercengkrama panjang lebar, paman bokap menyuguh dengan teh hangat dan beberapa jajanan yang saat itu langsung ku serbu dengan biadap. (maklumlah. di keluarga gue, gue dikenal dengan alat penghabis makanan berjalan) saat itu gue mengambil kaleng wafer coklat, (perlu diketahui wafer adalah salah satu camilan kesukaan gue, jadi jika ingin membeli wafer jauhkan dari jangkauan gue. Warning!!!!!... nggak ding)
Saat itulah tiba – tiba........., kejadian yang tidak terkira, tidak terprediksikan, tidak terduga, dan tidak terlupakan dalam hidup gue, yang merenggut senyuman dalam bibir dan menggantikannya dengan kesedihan, yang jika diingat disitu kadang saya merasa sedih pun terjadi (alay). Gue membuka kaleng wafer itu dan ternyata .....jeng...jeng...jeng... isinya itu adalah emping. Sumpah demi Tuhan, gue nggak pernah ngira bahwa tuh kaleng wafer coklat isinya itu emping. Dengan terpaksa gue mengambil dan mencoba untuk memakan emping itu karena paman bokap melihat ke arah gue dengan pandangan yang penuh harapan. Dia bercerita bahwa emping itu adalah buatannya sendiri. Paman bokap juga bercerita tentang hobinya yang suka buat jajanan – jajanan tradisional ya seperti emping tadi. Kesialan gue masih terus berlanjut, saat gue makan empingnya ternyata melempem. Saat itu gue sangat menderita sekali, suer!!!. Gue harus berjuang sekuat tenaga gigi gue untuk menghabiskan emping yang melempem itu agar tidak menyakiti perasaan paman bokap. (moment ini menjadi moment perjuangan gue yang paling tragis tau) kalo di inget – inget gue kadang merasa sedih. Mungkin kalo orang lain yang makan itu emping, pasti orang lain yang makan itu emping langsung keselek muntah – muntah dan pasti membuat perasaan paman bokap menjadi kecewa, gue yakin banget tuh. Tapi menurut gue tak masalah lah, gue memaklumi mungkin paman bokap buat tuh emping dengan rasa sedih karena cucunya yang sedang sakit tadi. Tapi Secara gitu loh, di suasana yang harusnya bahagia kayak Idul Fitri ini harus ada yang sedih karena sakit hingga tidak bisa merayakan momen bahagia ini. Disitu Kadang Saya Merasa Sedih.
Kedua,
Kali ini gue diminta nenek untuk menemaninya ke kondangan temennya. Tanpa berpikir panjang, gue langsung menerima ajakannya. Saat itu yang terlintas dipikiran gue adalah di tempat kondangan pasti banyak makanan yang melimpah dan ini momen yang tepat buat icip – icip kayak di acara tipinya pak Bondan. Kita pun langsung berangkat kesana.
Sampai di tempat kondangan, dugaan gue bener adanya. Semua jenis makanan ada disana, siap untuk gue sergap dengan lahap. Namun pada waktu itu gue menahan diri terlebih dahulu karena tidak etis jika belum bertemu si yang punya hajat namun udah main makan makanannya. Gue dan nenek gue bertemu dengan teman nenek yang punya hajat. Kami berjabat tangan dan dipersilahkan untuk masuk kedalam dan duduk ala lesahan yang beralaskan tikar. Gue masih ingat bahwa itu acara sunatan cucunya teman nenek gue. si cucu dari teman nenek ini menangis terus – terusan. Sesekali ibunya menenangkan sambil mengkipasi tititnya yang baru saja dipotong itu. Selidik punya selidik si cucu menangis bukan karena menahan sakit di tititnya itu, namun karena malu tititnya dipajang, dan diperlihatkan kesemua orang yang ada dikondangan sebagai bukti bahwa acara khitan ini memang benar ada yang menjadi korban khitan ini. Nah beberapa saat kemudian kami dipersilahkan untuk makan hidangan yang telah disediakan oleh yang punya hajat. Kita mengambil makanan sendiri.(jadi sistemnya kayak prasmanan gitu). Kita mengantri untuk mengambil makanan. Antrian makanan ini sangat panjang, bahkan sampai keluar ke tempat kondangan. (gile, buat makan aja susahnya begini).
Giliran kita pun tiba, nenek mengambil nasi secukupnya. Kira – kira satu piring pun tak ada. Berbanding terbalik dengan gue yang mengambil nasi dengan porsi se-gunung kembar yang membuat orang yang dibelakang gue frustasi banting piring karena nasi abis. Nenek mengambil lauk dengan memilih – milih, dia hanya mengambil sayur – sayuran, berbeda dengan gue yang mengambil semua lauk pauk yang ada. Di stand lauk pauk daging – dagingan gue bingung mau mengambil yang mana. Gue ingat waktu itu ada ayam, telor, ikan, dan rendang. Karena kelihatannya enak semua, gue memutuskan untuk mengambil semua lauk itu. Et...... gue dicegah oleh mbak – mbak yang jaga stand tadi. Dia bilang bahwa hanya boleh mengambil satu saja karena agar tamu yang lain bisa kebagian. Gue jadi bingung harus memilih yang mana. Sempat berfikir lama yang menyebabkan antrian makin panjang dan parah, gue memutuskan untuk mengambil rendang yang hanya tinggal satu di tempatnya. Mengapa ? karena ayam, telor, dan ikan udah biasa gue makan. Jika gue meminta nyokap buat memasak rendang, nyokap selalu bilang “nanti nunggu lebaran”. Yap gue makan rendang hanya setahun sekali saja tepatnya lebaran, itupun kalo dapet pemberian dari kurban.(kok jadi curhatnya v_v). Rendang yang gue pilih ini adalah rendang terbesar yang pernah gue lihat (suer dah....!!! gue kagak bo’ong), mungkin ini rendang bisa masuk rekor muri karena sanking gedenya itu.
Gue dan nenek siap untuk menyantap hidangan yang telah kita ambil tadi sambil di temani oleh teman nenek yang punya hajat. Gue langsung menyerbu makanan yang gue ambil tadi. Dan yang terjadi ketika gue makan,  ... jeng.....jeng....jeng..... sial bener gue kena jebakan betmen. ternyata rendang yang gue ambil itu adalah lengkuas. Gue sempet pengin muntahin tadi, namun lagi – lagi pandangan itu muncul. Pandangan yang sama ketika gue makan emping melempem dirumah paman bokap.  Teman nenek yang punya hajat ini memandangi gue dengan sorotan mata yang penuh harap. Berharap para tamunya sangat menikmati hidangan yang telah dibuat oleh teman nenek yang punya hajat, Dan akan membuat sedih si punya hajat ketika gue mengaku bahwa rendang yang dihidangkan bukanlah dari daging melainkan lengkuas. Untuk kedua kalinya dalam hidup gue terpaksa menderita makan rendang yang ternyata lengkuas setelah pernah terpaksa menderita karena makan emping yang ternyata melempem. Dengan daya dan upaya, gue sekuat tenaga menelan secara sengaja lengkuas bumbu rendang itu. Entah apa yang akan terjadi setelah gue makan lengkuas bumbu rendang itu, gue tidak tahu. Gue sempat berfikir akan membuat surat wasiat, jikalau nanti terjadi apa – apa setelah memakan makanan tak lazim itu. Gue mencoba untuk tidak membuat sedih dan malu si yang punya hajat kepada tamu lain karena ada complain rendang yang diambil salah satu tamunya merupakan lengkuas. Pada waktu itu gue sempat ditanya
Si punya hajat : ”masakannya enak mas?”
Gue                 : “iya bu, masakannya enak
Tepat pada detik itu gue menjadi orang yang pertamakali dalam sejarah dunia yang mengakui bahwa lengkuas berbumbu rendang merupakan makanan yang enak.(absurd).
Jika gue inget tentang kenangan itu, disitu kadang saya merasa sedih. Gue membayangkan betapa sedihnya jika ada seseorang yang mengambil rendang yang ternyata lengkuas itu. Bagaimana jika orang tersebut complain kepada si punya hajat?, pasti akan membuat malu si punya hajat didepan para tamu lain. Terlepas dari itu semua gue juga memikirkan bagaimana perasaan cucu si punya hajat yang malu. Gimana nggak malu? Tititnya jadi barang tontonan para tamu yang datang. Gue sempet melihat tititnya, Aduh kasihan, udah kecil harus dipotong lagi. Untung pas waktu gue disunat, titit gue nggak jadi pajangan waktu bokap ngadain hajatan sunatan gue. untung saja..........
Ketiga,
Ceritanya gue udah jadi anak kost, gue ngekost karena untuk menggapai cita – cita yang gue impikan bokap gue impikan. Yup, bokap gue pengin salah satu anaknya jadi apoteker. Melihat dari kedua anaknya menurut bokap, karena adek gue yang paling tidak meyakinkan untuk jadi apoteker maka gue-lah yang harus mewujudkan cita – cita bokap untuk menjadi apoteker. Gue disekolahkan di salah satu SMK terkenal di kota semarang untuk menjadi seorang apoteker. Gue menuruti keinginan bokap karena gue bingung mau jadi apa kelak. Jujur gue sampai sekarang nggak kepikiran tujuan hidup gue apa? Hidup gue untuk apa? dan Cita – cita gue apa? Gue kehilangan cita – cita ketika gue tahu bahwa cita – cita yang selama ini gue impi - impikan itu nggak keren. Gue dulu ketika masih TK ditanya oleh ibu guru apakah cita – cita gue, gue menjawabnya gue pengin jadi superman. menurut gue pada waktu itu superman hal yang sangat keren. Bisa membantu orang, mengalahkan musuh, membasmi kejahatan, merupakan hal yang sangat keren di benak gue waktu kecil. Obsesi itu yang menuntun gue ingin menjadi superman. Namun seiring berjalannya waktu gue berfikir bahwa superman tidak lagi keren dalam benak gue. apa kerennya sob? Seseorang pria kekar yang memakai kostum dengan celana dalam diluar, kerennya dari mana? itu malah kayak orang gila. dan yang mengherankan lagi, Kenapa dulu waktu kecil gue begok? Menjadikan si pemakai celana dalam di luar itu menjadi cita – cita gue.(aduh.... parah).
Gue inget sore itu gue baru saja pulang sekolah. Gue pulang dengan perut yang memberontak. Hal itu menjadi keadaan yang sudah biasa bagi kami sebagai anak kost. Gue pulang dengan buru – buru karena perut udah keburu laper. Sasampai di kost-an, gue lupa bahwa di kost nggak ada apa – apa. Nggak ada apapun yang bisa gue makan, Yang ada hanya batu dan rumput yang bergoyang.(alay). Gue putuskan untuk pergi ke warteg buat makan, namun gue urungkan melihat status finansial gue yang tidak memungkinkan.(read: lagi bokek....kagak punya duit, maklumlah tanggal tua) gue lihat di dompet gue yang akhir – akhir ini meng-kurus, duit gue tinggal tiga ribu perak doang. Bokap udah janji mau kirim uang besok pagi. Gue berfikir keras. Makan apa yang bisa membuat kenyang dengan uang tiga ribu perak?kayaknya nggak ada deh yang bisa bikin kenyang dengan modal tiga ribu. Kalo gue beliin nasi kucing Cuma dapat dua biji, itu nggak bisa bikin kenyang Cuma bisa nyelilit di sela – sela gigi gue. a...ha....gue menemukan sebuah ide. Karena dikost ada kompor, Gue memutuskan untuk beli mie goreng. Lumayan dengan uang tiga ribu perak bisa dapet dua. Ya mungkin nggak bisa bikin kenyang nih perut, tapi setidaknya bisa nahan laper gue sampe besok kiriman duit gue datang.
Gue pergi ke toko kelontong yang jual mie. Gue beli mie goreng dua biji. Gue masak tuh mie. Dan disinilah malapetaka menghadang gue. sewaktu gue menyalakan kompor, ternyata eh ternyata gas dari kompor itu habis. (gimana kalo loe jadi gue sob? Nyesek nggak?). gue harus gimana lagi?, udah laper berat, rasanya perih, sakitnya tuh disini(nunjuk perut). Sumpah waktu itu gue bingung bukan kepalang. Uang gue udah abis-is-is. Udah gue beliin mie goreng dua biji. Jujur gue sempet mau nangis waktu itu, gue frustasi, gue menyesal duit gue habisin buat beli martabak spesial loyang besar dan sprite satu setengah liter kemarin malam. Yap, kemarin malam gue bersenang – senang nge-fly bersama dua barang itu. Tak perlu narkoba ataupun ganja untuk nge-fly sob. Cukup dengan martabak dan sprite bisa membuat mabuk kepayang tanpa menimbulkan efek berkelanjutan.(patut dicoba jika loe pecinta martabak). Gue berdoa kepada Tuhan dengan nangis – nangis (jujur ini pertama kalinya gue berdoa dengan seserius ini). Gue waktu itu sangat terpuruk. Gue berdoa “ya Tuhan, turunkanlah keajaiban mu kepada hamba-Mu yang sedang terpuruk ini. ya Tuhan ku yang maha pengasih lagi maha pemurah, turunkanlah pertolongan-Mu kepada hamba selayaknya Engkau menolong Hamba yang lain. Maafkanlah hamba yang telah khilaf ya Tuhan, yang telah bersenang senang dengan martabak itu tanpa menghiraukan betapa kurusnya dompet hamba.”
Selang beberapa menit kemudian, seseorang datang mengetuk pintu kost. Tak ada seseorang waktu itu kecuali gue. gue membukakan pintu. Oh.... tanpa disangka, orang itu mengantarkan nasi kotak. Dia membagikan makanan karena sedang mengadakan hajatan. Dia bilang ini untuk pak kost, tetapi gue menjawab bahwa pak kost tidak ada dirumah jadi nasi kotak itu buat gue. (ye.... doa gue terjawab oleh Tuhan, makasih Tuhan).
Akhirnya gue malem itu bisa makan juga, gue terharu sekali. Kalo gue ingat – ingat disitu kadang saya merasa sedih. Gue terlalu bodoh, menghambur – hamburkan uang dengan kesenangan yang hanya sekejap saja(read:martabak). Dari kejadian di hari itu gue sekarang jadi bijak dalam menggunakan isi dompet gue.

Sebenernya sih masih banyak lagi hal – hal yang disitu kadang saya merasa sedih, kayak akhir – akhir ini sikap cewek gue jadi berubah. Gue nggak tau kenapa, apa yang salah dari diri gue (mungkin gue banyak salahnya). Sempet kehilangan kontak beberapa waktu. Dan gue juga punya begitu padatnya urusan yang malah jadi beban masalah dalam hidup gue. tugas disekolah gue mendadak full yang membuat pala gue serasa mau pecah. Gue depresi berat, sampe – sampe gue nggak megang hp yang membuat nyokap marah – marah karena telfon darinya nggak gue angkat.
Pengin sih cerita lebih banyak lagi, tapi yang ada malah ceritanya nggak selesai – selesai dan gue tambah sedih keinget hal – hal yang menyedihkan dalam hidup gue yang udah menyedihkan ini. gue sempetin nulis ini karena buat menghibur hati gue sendiri yang lagi sedih. Mudah-mudahan yang baca tulisan ini mengerti kesedihan gue dan mudah – mudahan setelah baca tulisan ini nggak malah jadi sedih. Sampai tulisan ini berakhir gue masih sedih.



Tidak ada komentar

Posting Komentar