Hari Kartini, hari yang jatuh pada tanggal 21 april tersebut diperingati
untuk mengenang jasa sang pahlawan emansipasi wanita yang tak lain dan tak
bukan Raden Ajeng Kartini. Yap, R.A Kartini adalah seorang pahlawan yang
memperjuangkan hak – hak kaum wanita agar sejajar dengan kaum pria atau orang
banyak menyebutnya kesetaraan gender. Lewat
perjuangannya yang amat hebat ia berhasil mengubah persepsi dunia akan derajat
wanita dibawah pria menjadi derajat wanita sama dengan pria. Kita sebagai kaum
wanita (kita? loe aja kali, gue nggak.
Gue laki – laki bok!!!) harus bersyukur dengan apa yang R.A Kartini
perjuangkan sehingga kaum wanita mendapat perlakukan yang sama seperti kaum
pria.
Pada hari kartini juga sekolah – sekolah merayakannya dengan menggelar
hiburan berupa lomba menjadi kartini – kartono. Tapi sebelum gue cerita, gue
mau nyampein kegelisahan dalam hati gue terlebih dahulu, kegelisahan yang gue
pendam sejak gue tau adanya hari kartini.
Gue masih binggung sebenernya kapan sih pertama kali kita merayakan hari
kartini ?, siapa sih yang memprakasai adanya hari kartini ?, dan yang
terakhir yang paling aneh siapakah sosok
sebenernya kartono itu dalam sejarah hidup kartini ?. mungkin pertanyaan
pertama dan kedua bisa diabaikan karena tidak terlalu penting untuk dibahas.
Tapi untuk pertanyaan ketiga gue itu saat ini gue masih penasaran, siapakah kartono?
Melihat dari sejarahnya yang pernah gue baca beberapa
kali, dalam cerita perjuangan R.A Kartini tidak ada yang menggambarkan atau
menyebutkan sosok dari Kartono. Jadi singkatnya sosok dari Kartono adalah
fiktif. Tapi celakanya, masyarakat mempunyai opini terhadap Kartono yang ibarat
“nasi sudah sampai ke dubur”. Sudah
terlanjur bahwa masyarakat beranggapan suami dari kartini adalah kartono.
Padahal, menurut sejarah suami dari kartini adalah K(e).R(a).M(as). Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. sotoy loe, kate siape ? yeh dikasih tau
malah ngeyel, udah percaya ajalah kebanyakan mikir nanti otakmu jadi bucel –
bucel.
Lanjut ke cerita, kejadian yang menggemparkan dunia
akhirat itu terjadi bermula ketika KTS semester satu pada waktu gue kelas satu
smp. KTS atau kepanjangannya kegiatan tengah semester adalah suatu ajang
penderitaan siswa secara terang – terangan dengan menyiksa siswa dengan
menggunakan lomba – lomba (lomba-lombanya kagak mutu) setelah sebelumnya siswa
tersiksa batin dan pikirannya oleh UTS, tersiksa seperti yang gue alamin ini. waktu itu saat dalam pelajaran pak justin, pak
justin (untuk yang belon baca cerita gue dulu, pak justin adalah wali kelas
gue) mengatakan akan ada lomba untuk memperingati hari Kartini. Pak justin
mengatakan bahwa lombanya ialah Fashion
show menjadi kartini dan kartono. Pak justin akan menunjuk satu laki-laki
untuk menjadi kartono dan satu perempuan untuk menjadi kartininya, tapi saat
pak justin menyampaikan ide tersebut semua temen – temen kelas memprotes,
mereka berkata akan lebih adil jika dilakukan voting untuk mementukan siapa
yang jadi kartono dan kartini. Ketika mendengar itu gue langsung mempunyai
firasat yang amat sangat buruk (desas desus yang gue denger, semua temen
sekelas gue sepakat untuk menjebloskan gue menjadi kartono). Pak justin pun
setuju dan memutuskan untuk melakukan voting. Gue melihat sekeliling,
sepertinya temen – temen tersenyum sinis ke arah gue. Dari ekspresi wajahnya
gue bisa menebak apa yang mereka pikirkan. Temen yang pertama, gue bisa menebak
dalam hatinya berkata ”mampus loe mam,
biar tau rasa hah....hah...hah”. temen yang kedua “ini balasan atas apa yang kau perbuat semalam”(loh.. emang semalem
gue berbuat apa sama loe). Dan
seorang yang ketiga dari balik
jendela “syukurin, dasar tukang ngutang”, oh ternyata orang ketiga ini adalah
ibu kantin yang lagi nguber – uber gue gara – gara belum bayar gorengan
kemarin.(absurd)
Singkat cerita gue terpilih menjadi kartono karena
semua orang yang ada dikelas (termasuk ibu kantin tadi)
memilih(read:menjebloskan) gua menjadi kartononya. Sempet mengelak dengan pura
– pura hilang ingatan, pura – pura pingsan, pura – pura jadi gila yang malah
jadi gila beneran namun cara - cara tersebut tak ampuh lagi untuk membohongi
semua orang. Dengan besar berat hati gue mau menerima menjadi kartono
dalam acara tersebut.
Bukan hanya gue sih satu – satunya yang menjadi
kartono, tetapi temen – temen dari kelas lain pun sama senasib dengan gue,
salah satunya apin si anak kelas sebelah. Dia juga kagak mau jadi kartono
tetapi dipaksa oleh wali kelasnya, gara – gara dia memikirkan nasibnya menjadi
kartono si apin sampe – sampe terkena penyakit aneh yaitu bersin berupil dan
kentut ber’ampas (ini beneran loh). Si apin sempet curhat sama gue kalo dia
kagak mau banget untuk jadi kartono, dia juga malah mau bunuh diri karenanya.
Dia mengajak gue untuk bunuh diri bersama, tetapi dengan tegas gue menolak.
Apin : “mam, apa yang harus gue perbuat, gue kagak mau jadi kartono”(dengan raut muka seperti orang depresi)
Gue : “gue juga binggung pin, gue juga kagak mau”.
Apin : ”gue pengen bunuh diri, dari pada gue malu jadi kartono lebih baik
gue bunuh diri”
Gue
: “jangan pin, bunuh diri adalah perbuatan dosa” ( dengan tampang sok bijak)
“lagian akan sia-sia hidup kita di dunia ini jika belum merasakan yang namanya
kawin”
Apin
: ”oh... jadi orang hidup itu harus merasakan kawin, kata siapa loe?”
Gue
: “iya bener, itu kata Mbah gue. Katanya kawin itu menyenangkan, tapi jangan
senang kawin”
Apin
: “ya sekarang gue mengerti, gue akan menunda bunuh diri gue”
Gue
: “eh....., maksudnya menunda?” (dengan muka bingung)
Belum sempat Gue mendapatkan jawabannya, si Apin telah
menghilang entah kemana. Gue jadi bertanya – tanya apa maksud perkataannya.
Keesokan harinya gue dikejutkan oleh seseorang yang nggak gue kenal. Ia
mengantarkan selebaran yang ternyata berupa sebuah undangan pernikahan beratas
nama Apin. Gue terkejut bukan main, gue kemarin salah kaprah dalam
menasihatinya. Melihat kenyataan bahwa nasi telah menjadi bubur, undangan yang
telah tersebar tak bisa lagi ditarik ulang. Si Apin telah memutuskan untuk
kawin duluan, gue sebagai kawannya hanya bisa berucap selamat untuk dirinya. Hari
lusanya gue mendengar kabar yang lebih mengejutkan lagi. Si apin yang baru saja
kawin ini melakukan percobaan bunuh diri dengan menabrakan tubuhnya ke truk tronton bermuatan BBM 25.000 ton
yang sedang parkir di warteg pinggir
jalan (ye ketipu, kalian pasti deg-degan). Untungnya dari kejadian itu
tidak terjadi ledakan ataupun kebocoran BBM dari truk tronton tersebut. Tidak
ada pula korban jiwa atas kejadian tersebut. Si Apin pun tidak mati karenanya.
Dari kejadian tersebut dihitung bahwa kerugian mencapai sepuluh ribu rupiah (itupun belum terhitung dengan uang kembalian) untuk
membeli betadine yang digunakan untuk mengobati memar – memar pada tubuh si
Apin karena usaha menabrakan dirinya ke truk yang sedang parkir tersebut.
Sempat pula si Apin dilarikan ke Pak Mantri terdekat dan akan dirujuk ke
Puskesmas namun tidak terjadi lantaran pihak dari Puskesmas tidak mau
menanggung pasien dalam kasus seperti Si Apin. Supir truk yang sedang makan di
warteg yang tidak tahu apa - apa tersebut tiba – tiba langsung dibawa untuk
diperiksa oleh pihak polisi. Setelah
melakukan pemeriksaan selama 19 jam, akhirnya dinyatakan supir truk yang tidak
tahu permasalahannya tersebut dinyatakan tak bersalah atas insiden ini .(nggak
ding, he...he....he....)
Haripun telah tiba, gue sudah pasrah dengan takdir apa
yang terjadi di hari ini. Gue mencoba memendam rasa malu gue mengenakan kostum
kartono yang malah mirip seperti pengantin laki - laki adat jawa, gue mencoba
bersikap profesional. Gue berfikir bahwa mungkin memalukan tapi mungkin gue
akan menyesal dikemudian hari dengan membegok-begokan diri gue sambil bertanya mengapa
gue yang nggak jadi kartononya karenanya kesempatan hanya datang sekali.
Pikiran itu yang menenangkan gue dalam keadaan gue yang waktu itu dilanda rasa
grogi. Dari semua itu satu hal yang membuat gue untuk menerima untuk jadi
kartono karena gue kali ini sedang taruhan. Taruhannya adalah siapa yang bisa
menggandeng tangan Abel didepan muka umum dengan waktu yang lama ia adalah
pemenangnya, Dan gue menyanggupinya. Yap, Abel adalah temen sekelas gue. Ia
yang akan menjadi perwakilan kartini dikelas gue sekaligus partner gue dalam
lomba fashion show ini. Ia merupakan salah satu idola bagi kaum adam di sekolah
gue. Menurut temen – temen gue ia cantik, body nya katanya seksi, berisi, dan telah berASI (yang terakhir nggak ding). Ya ini
salah satu cara gue juga buat PDKT,
karena si Abel ini teramat sangat sulit untuk dideketin. Terlebih lagi pagar
betisnya adalah macan buas yang galaknya kagak berampun (read :bokapnya).
Hari itu gue menerima dengan pasrah, tanpa melawan, dan
menikmati apa yang telah diperbuat oleh tukang
rias terhadap gue(maksudnya gue di
dandanin. Jangan berpikir macam-macam). Dengan segala hal yang gue sebagai
laki – laki kagak mengerti apa namanya mulai dilakukan oleh si tukang rias
terhadap diri gue. Gue pun disulap dari manusia ingus menjadi bak pangeran
kraton nan lugu, tampan, dan menawan. Entah apa yang sedang terjadi, ketika gue
menjejakan kaki gue di sekolah semua orang pada teriak histeris melihat gue. Sampe
– sampe ibu kantin pingsan, entah karena melihat kegantengan gue yang luarbinasa atau karena habis kecopetan di pasar saat
belanja.
Detik – detik menjelang fashion show akan dimulai.
semua peserta ditempatkan menurut tingkatan kelasnya dan bergandengan dengan
partnernya masing – masing. Gue menggandeng tangan si Abel. Ini adalah moment
yang menajubkan bagi gue bisa sedeket ini bahkan bisa menggandengnya tanpa
diketahui oleh si macan buas (read : bokapnya). Gue lihat si Apin dengan tubuh
yang dililit dengan perban akibat kejadian tertabrak menabrak truk akhirnya
ikut meramaikan lomba ini. Si Apin yang berdandan seperti mumi kartono dari mesir juga telihat dengan enjoynya menggandeng
partnernya. Gue jadi binggung bagaimana bisa ia tiba – tiba mau ikut, padahal
sebelumnya ia mati – matian menolak jadi kartono bahkan sampe mau mati bunuh
diri dengan cara konyol karenanya. Mungkin ia berfikiran sama dengan gue,
pasrah atau orang jawa bilang nerimo ing
pandum.
Para peserta fashion show satu – persatu berjalan
keluar melenggak – lenggok di depan hadapan juri dan ribuan pasang mata
penonton. Gue jadi grogi. Gue binggung apa yang harus gue perbuat. Giliran gue
pun semakin dekat dengan telah selesainya beberapa peserta. Grogi gue semakin
menjadi. Gue mencoba untuk menenangkan diri gue. Giliran gue tiba. Gue berjalan
dengan mengandeng si Abel. Entah mengapa semua penonton menjadi bersorak. Terlebih
ibu kantin yang baru saja sadar dari pingsan langsung bergairah menyorakkan
suara untuk gue. gue berjalan memutari area panggung, melenggak – lenggok dihadapan
juri, dan turun dengan perasaan lega. Ya, gue merasa lega karena apa yang
membuat gue merasa grogi telah usai. Tinggal menunggu pengumuman juara.
Pengumuman juara telah di umumkan, singkatnya gue kagak
jadi juara. Tak apalah, gue juga nggak berharap jadi juara. Tapi gara – gara peristiwa
itu gue dicap sebagai model. Gue mendapat panggilan baru di sekolah yaitu mas
model. Baik temen – temen sampe para guru dan ibu kantin memanggil gue dengan
sebutan itu. Yap. Mas model. Gue tak
marah, gue pun tak benci. Gue hanya pasrah dengan apa yang telah terjadi. Gue pasrah
menerima takdir ini. Gue pasrah menjadi kartono dalam lomba fashion show itu. Gue
pasrah saat semua menjuluki gue sebagai mas
model. Gue pasrah menjadi laki – laki terpopuler disekolah semenjak gue
jadi kartono (he...he...he...). menurut gue terkadang pasrah merupakan pilihan
yang paling tepat disaat tidak ada pilihan dalam menyelesaikan masalah. Pasrah menjalani
takdir yang telah ditentukan seperti gue pasrah menjalani takdir menjadi
kartono yang telah ditentukan oleh pak justin. Namun dibalik itu, terkadang
pasrah juga bukan pilihan yang tepat dalam menyelesaikan masalah seperti pasrah
ketika akan diperkosa (yang ini namanya bukan pasrah bro....). takdir mungkin
telah ditentukan, namun kita masih bisa mengubahnya. Selama tahu cara
mengubahnya, maka ubahlah. Namun selama kamu berusaha untuk mengubahnya tapi tidak
berhasil menemukan caranya, mungkin yang kamu butuhkan adalah pasrah. seperti
saat pak justin, temen – temen, dan ibu kantin menunjuk gue sebagai kartono,
gue berusaha menolak dengan cara pura – pura hilang ingatan, pura – pura
pingsan, pura – pura jadi gila namun tak berhasil mengubah keputusan pak
justin. ya Gue memilih pasrah untuk menjadi kartono. Tapi terlepas dari hidup
gue yang penuh dengan kepasrahan, gue bingung karena yang jadi juara siapa yang
terkenal dan dikenal semua orang kok gue. yang mendapat julukan mas model kok Cuma gue. harusnya gue
yang jadi juaranya yang satu ini gue kagak pasrah nerima – nerima aja. Harusnya
gue menuntut pihak sekolah atas apa yang telah gue alami. Yap, gue harus
menggugat(kayak berani aja luh. he...he...he...).
Tidak ada komentar
Posting Komentar