Salah satu hal aneh yang gue sadari saat ini adalah gue menemukan fakta bahwa orang memiliki kemiripan dengan orang yang lain. Hal ini diperkuat dengan temuan bahwa gue ternyata mirip dengan Tom cruise loh!!! (diintip dari lubang kunci). Tapi bicara kemiripan gue jadi bingung kata nyokap gue ini mirip dengan bokap, kata bokap gue mirip nyokap, sedangkan kata orang yang suka telanjang di depan rumah gue (read : orang gila) gue mirip Tom cruise. Gue bingung gue itu sebenernya mirip sama siapa? Nyokap, bokap, Tom cuise, atau nyokap bokapnya Tom cruise.
Bicara soal mirip – miripan sama orang lain, gue punya cerita tentang temen gue yang mirip dengan artis indonesia waktu itu terkenal sampai menjadi trending topic di twitter mengalahkan kepopuleran dari mantan grup boyband gue dulu, yap Smash. Artis Indonesia tersebut selalu membawakan jargon yang selalu dilantunkan oleh anak kecil, remaja, maupun orang tua dengan selalu berakhiran “…….prok,prok,prok”. Siapa lagi kalo bukan Pak Tarno. Temen gue yang satu ini emang mirip sekali dengan Pak Tarno, tapi dia cewek. Mungkin dia masih punya hubungan darah sama pak tarno kali yah?
Cerita ini dimulai saat gue pertamakali duduk di bangku kelas satu smp. Saat itu pas sesi mos perkenalan diri, gue amati satu persatu dari temen – temen baru gue tak ada yang aneh darinya sampai ada satu suara cewek yang maju kedepan kelas memperkenalkan diri “hallo nama saya Lavia saya dari…………. Sekolah asal………….” Gue melihat wajahnya tampak tak asing lagi dari pikiran gue. Gue sering melihatnya tapi lupa entah dimana gue melihatnya. Sepertinya gue pernah melihat di tipi tapi kapan ? gue lupa. Sepertinya gue pernah melihat di acara tipi dia jadi badut sulap,Yap gue inget dia jadi badut sulap. Gue inget dia mirip dengan Pak Tarno. Gue mencoba mengamati lagi apakah anggapan gue betul emang dia mirip sama Pak tarno, gue mengamati dari ujung sepatunya sampai ujung pita rambutnya emang betul dia mirip sekali bahkan bisa dikatakan persis atau sama dengan Pak tarno. Gue tanya sama temen - temen gue apakah hanya gue saja yang rabun matanya karena merasa bahwa tuh cewek mirip pak Tarno. Ternyata tak hanya gue yang ngira bahwa dia mirip sama pak Tarno, temen - temen gue pun sepenglihatan sama gue tuh cewek emang mirip pak tarno.
Dari kemirapan Lavia sama pak tarno yang bukan lagi mirip tetapi persis bahkan cenderung kembar, dia menjadi bahan cemoohan, tertawaan, hinaan, ejekan, siksaan, dan semacamnya (nggak ding) oleh gue sebagai provokator dan temen - temen gue dikelas. Padahal gue berjanji bahwa gue di sekolah baru ini akan memperbaiki sifat gue kenakalan gue yang gue lakukan dulu pada jaman sd bersama temen sejati gue si Ingus yang selalu menemani dibawah hidung gue. Gue juga berjanji nggak bakal nakal, menghina – hina orang, bikin ulah, bikin malu diri sendiri, guru, dan orang tua. Tetapi entah mengapa kenakalan gue kembali muncul. Setiap kali gue melihat wajah si Lavia, ingin sekali rasanya gue untuk menertawakannya, menghinanya, mencemoohnya, dan melakukan hal - hal semacamnya. Bukan hanya gue saja yang melakukannya tetapi temen – temen gue juga. Entah aura apakah yang terpancar dari wajahnya yang dapat menghipnotis gue dan temen – temen gue di kelas untuk berusaha menghinanya terus – terusan.
Awal dari kejahatan gue pun dimulai, saat itu adalah dimana diadakan rapat kelas untuk memilih ketua kelas. Dengan ide yang tiba – tiba terbesit di benak gue, gue punya rencana buat ngerjain dia buat jadi ketua kelas. Gue mulai memprovokasi temen temen laki – laki buat memilih si Pak tarno (baca : Lavia) jadi ketua kelas. Mereka setuju buat Lavia jadi ketua kelas. Gue juga memprovokasi temen temen perempuan di kelas gue buat memilih si Pak tarno jadi ketua kelas, dan mereka setuju.
Setelah gue melakukan provokasi besar – besaran dan melakukan kampanye, pawai, arak – arakan, hingga demo (nggak ding) buat memilih si Pak tarno jadi ketua kelas, tibalah kini perhitungan suara dimulai. Apa yang terjadi bung selanjutnya ? dan Jebrettt.......... . Perhitungan suara menunjukkan sebanyak tigapuluh orang memberikan suaranya kepada si Pak tarno dari empatpuluh orang pemilih. rencana gue berhasil. Semua orang yang memilih si Pak tarno gembira bahkan menangis terharu karena calon ketua kelas yang di pilihnya menang termasuk juga gue. Gue kegirangan sampe – sampe gue melakukan akrobat salto berpuluh – puluh kali karena rencana gue berhasil. Tapi naas, nasib sial pun terjadi. Gue salto kepentok meja hingga tak sadarkan diri dan dibawa ke mantri terdeekat. suasana yang semula riuh penuh dengan kegembiraan berubah menjadi sebuah tangisan (nggak ding, cuma bercanda).
Rencana gue ternyata nggak begitu berhasil karena Si Lavia menolak untuk menjadi ketua kelas. Semua teman menyorakinya dan memaksanya buat menjadi ketua kelas. Tetapi dia terus saja menolaknya hingga akhirnya terdengar suara tangisan yang pecah. Yap, si Lavia mengangis. Semua temen – temen di kelas jadi tuduh tuduhan. Mereka saling tuduh satu sama lain, sedang gue hanya diam saja. gue takut kebawa - bawa masalahnya. bapak wali kelas yang dari tadi hanya duduk manis dan diam seribu bahasa pun akhirnya bertindak. dengan sekali suara terucap dari mulutnya yang bernada B = ngok (Bengok) membuat seisi kelas menjadi diam ketakutan bahkan jangkrik pun ikut diam tak berbunyi (ya iyalah keles, mana ada jangkrik berbunyi di siang bolong). bapak wali kelas Gue yang biasa di panggil pak Justin (nama Justin adalah kode yang di berikan kami untuk ngomongin masalah yang berkaitan dengan bapak wali kelas kami) berteriak, dia berkata
Pak Justin : "Diam, semuanya diam dulu!!!!!"
Seluruh anak anak menjadi diam
Pak Justin : "sekarang jawab pertanyaan dari bapak, siapa yang jadi provokator Livia jadi ketua kelas"
Anak - anak sekelas hanya diam tidak ada yang berani menjawab
Pak Justin : "tidak ada yang mau jawab?, hey kamu murid baru jawab pertanyaan dari bapak!" (pak justin nunjuk - nunjuk kearah gue)
Gue : "sa....saya pak. la kan semua yang ada disini murid baru semua pak"
Pak Justin : "oh iya juga ya. ya yang kamu jawab sekarang" (pak justin rada nahan malu karena salah dalam perkataannya)
Gue : (gue sambil nengak - nengok kesamping) "siapa pak, jadi saya yang ditanya?"
Pak Justin : "iya kamu yang nolah - noleh"
Gue : "ya pak saya siap menjawab. tapi maaf pak, bapak tadi nanya apa?"
Pak Justin : "siapa yang menjadi provokator dari sekenario Livia jadi ketua kelas?"
Gue : "nganu pak, bukan saya. saya mah nggak tau apa - apa" (dengan memasang tampang sok blo'on)"
semua temen - temen sekelas bilang "boong pak, padahal umam yang menghasut kita - kita buat milih Livia jadi ketua kelas"
Pak Justin : "benarkah itu semua"
Gue : "benar apa pak, wah temen - temen pada ngaco. saya dari tadi diem tau.... nahan pipis. pak saya ijin ke kamar mandi dulu"
ada salah satu temen yang bilang pada waktu itu " boong pak dia emang tukang kibul. kemarin saya dikibulin dia, abis lima puluh ribu. jangan kasih dia keluar pak, si kampret mau kabur tuh pak"
Pak Justin : "oh jadi kamu, ya biang keroknya"
karena posisi gue udah ketauan dan gue takut di bawa ke BK gue akhirnya melancarkan jurus terakhir gue buat kabur yaitu pura - pura hilang ingatan lalu pingsan.
Gue : (memasang tampang bingung) "siapa saya?, saya ada dimana?, mengapa saya ada disini?, anda siapa?"
Gue lalu menjerit - jerit histeris kemudian gubrak!!! gue pura - pura pingsan. melihat situasi begini pak Justin langsung membawa gue yang pura - pura pingsan ke UKS, tapi karena UKS tidak mau menanggung Gue kemudian dibawa ke pak mantri terdekat. nggak ding. (inget cara ini tak akan berhasil jika loe seorang amatiran).
Seluruh anak anak menjadi diam
Pak Justin : "sekarang jawab pertanyaan dari bapak, siapa yang jadi provokator Livia jadi ketua kelas"
Anak - anak sekelas hanya diam tidak ada yang berani menjawab
Pak Justin : "tidak ada yang mau jawab?, hey kamu murid baru jawab pertanyaan dari bapak!" (pak justin nunjuk - nunjuk kearah gue)
Gue : "sa....saya pak. la kan semua yang ada disini murid baru semua pak"
Pak Justin : "oh iya juga ya. ya yang kamu jawab sekarang" (pak justin rada nahan malu karena salah dalam perkataannya)
Gue : (gue sambil nengak - nengok kesamping) "siapa pak, jadi saya yang ditanya?"
Pak Justin : "iya kamu yang nolah - noleh"
Gue : "ya pak saya siap menjawab. tapi maaf pak, bapak tadi nanya apa?"
Pak Justin : "siapa yang menjadi provokator dari sekenario Livia jadi ketua kelas?"
Gue : "nganu pak, bukan saya. saya mah nggak tau apa - apa" (dengan memasang tampang sok blo'on)"
semua temen - temen sekelas bilang "boong pak, padahal umam yang menghasut kita - kita buat milih Livia jadi ketua kelas"
Pak Justin : "benarkah itu semua"
Gue : "benar apa pak, wah temen - temen pada ngaco. saya dari tadi diem tau.... nahan pipis. pak saya ijin ke kamar mandi dulu"
ada salah satu temen yang bilang pada waktu itu " boong pak dia emang tukang kibul. kemarin saya dikibulin dia, abis lima puluh ribu. jangan kasih dia keluar pak, si kampret mau kabur tuh pak"
Pak Justin : "oh jadi kamu, ya biang keroknya"
karena posisi gue udah ketauan dan gue takut di bawa ke BK gue akhirnya melancarkan jurus terakhir gue buat kabur yaitu pura - pura hilang ingatan lalu pingsan.
Gue : (memasang tampang bingung) "siapa saya?, saya ada dimana?, mengapa saya ada disini?, anda siapa?"
Gue lalu menjerit - jerit histeris kemudian gubrak!!! gue pura - pura pingsan. melihat situasi begini pak Justin langsung membawa gue yang pura - pura pingsan ke UKS, tapi karena UKS tidak mau menanggung Gue kemudian dibawa ke pak mantri terdekat. nggak ding. (inget cara ini tak akan berhasil jika loe seorang amatiran).
berbulan - bulan gue merajut tali pertemanan dengan Lavia, bukan - bukan lebih tepatnya gue dan temen temen kelas merajut tali pertemanan dengan Lavia mengunakan cercaan, ejekan, hinaan, makian dan sebagainya, kesabarannya akhirnya memuncak. dia tidak mau lagi berangkat sekolah. dia menjadi minder, stress, trauma, bahkan menjorok ke gila. dia selalu teriak - teriak histeris jika mendengar kata sekolah. kedua orang tuanya pun mengadu kepada pihak sekolah atas kejadian ini. pak Justin yang mendengar akan hal ini langsung mengusut kasus ini. kita semua sekelas dihukum karenanya. dan sialnya hukuman yang paling berat jatuh pada diri gue ini. yap karena gue adalah provokator dari semua tindakan - tindakan penghinaan yang di lakukan terhadap Lavia.
dari ketakukannya akan kejadian - kejadian tak menyenangkan yang didapatkannya selama di kelas bersama kita, dia memutuskan untuk pindah kesekolah. saat dia memutuskan untuk pindah sekolah, semuanya jadi berubah. di kelas jadi serasa sepi. terlebih lagi gue, gue jadi nggak ada kerjaan lain. gue jadi kangen sama si Lavia, kangen rasa saat - saat gue dan temen - temen sekelas tertawa jahat dan puas karena menghina, mencemooh, mengejek, mencibir, dan mengolok - oloknya dan sejenisnya. suatu kepuasan tersendiri ketika gue dan temen - temen mengejek dirinya. nggak tau kenapa ketika loe melihat mukanya, loe pasti akan melakukan tindakan yang sama "MENGEJEKNYA". entah aura apa yang terpancar diwajahnya sehingga menimbulkan hasrat yang tak terbendung untuk selalu mengejeknya dan terus mengejeknya tanpa henti.
hari - hari telah berlalu sejak kepergian si Lavia, tapi masalah baru muncul. kami sekelas di hantui oleh bayang - bayang wajah si Lavia (nggak perlu takut keles, wajah Lavia kan emang mirip hantu nyeremin #ngejek). banyak kejanggalan - kejanggalan yang banyak terjadi baik di kelas maupun di rumah yang selama ini gue alamin sejak si Lavia memutuskan untuk pindah sekolah. bukan hanya gue saja terkena keanehan yang berbau mistik ini tetapi juga para temen sekelas gue. salah satunya yaitu sepidol yang selalu saja habis bila di pakai (belakangan dikitahui bahwa sepidolnya jarang diisi oleh tinta) dan pada saat dirumah tiba - tiba saja rice cooker di dapur gue berbunyi jeplet (usut punya usut ternyata jika rice cooker berbunyi menandakan nasi yang ada didalamnya telah matang).
semua yang gue lakuin kepada si Lavia membuat gue menjadi sadar, gue melupakan tujuan gue berada disini. gue melupakan janji gue saat pertamakali menginjakan kaki gue di sekolah ini. bagai menjilat ludah sendiri, gue telah melanggar semua janji gue. gue turut menyesal atas apa yang gue lakuin terhadap Livia (maksudnya gue sering menghinanya, jangan berfikir yang ambigu). dan kata pak SBY juga gue harus turut prihatin atas kesalahan - kesalahan dan dosa - dosa gue dengan Lavia. dan jika si Lavia baca tulisan gue kali ini, gue hanya mau bilang minta maaf atas banyaknya hinaan - hinaan yang gue lontarkan kepada loe yang mungkin jumlahnya melebihi butiran debu. pesan dari tulisan gue kali ini adalah kita sebagai sesama hidup tidak boleh saling menghina satu sama lain (cie pesan moral). kita boleh saja mengghina orang asalkan jangan sampe tu orang jadi minder dan stress berakhir pada pindah sekolah (nggak ding, jangan ditiru). ya intinya kita harus menghormati sesama temen, walaupun mukanya jelek, kusut, item, penuh dengan hinaan, pendek kayak tanaman bonsai dan diberi hidup lagi, sebagai temen kita wajib menghargainya dan jangan pernah membeda - bedakan temen. itulah generasi anak muda jaman sekarang. selamat melanjutkan aktivitas dan trimakasih udah mampir baca.
next cerita "Raden Mas Tumenggung Kartono"
Tidak ada komentar
Posting Komentar