cover

cover

8 Apr 2014

sekolah baru dengan Wajah yang baru tetapi nasib masih yang lama




Ini adalah kisah pertama kalinya gue masuk sekolah sebagai siswa smp setelah enam tahun ngak kurang ngak lebih selalu berangkat sekolah make celana merah sepusar dan make dasi bertali karet yang buat leher gue kecekik. gue juga seneng karena ini kedua kalinya gue dapet ijazah setelah lulus dari TK dengan nilai UN yang lumayan memuaskan (mewarnai 9,3; menggambar 8,2; menulis 6,0; membaca 5,1; berhitung 4,2 Kerenkan!!!!)

Hari itu adalah hari dimana semua anak senang karena pertama kalinya mereka naik pangkat dari pangkat celana merah culun menjadi celana biru tua yang selama ini mereka idam – idamkan. Gue sih sebenernya nggak seneng – seneng amat, biasa aja. yang seneng kegirangan malah bokap nyokap gue yang harapannya terkabul anaknya bisa sekolah sesuai keinginannya.

Pada hari itu, gue bangun pagi banget nggak seperti biasanya, kira – kira jam setengah enam (ini pertama kalinya gue bangun sepagi ini). Gue bersiap – siap buat berangkat sekolah. Tak lupa mandi dulu, terus menyikat gigi, merapihkan kamar tidur(yang ini bo’ong), Bersih – bersih  ingus yang selalu menemani gue saat SD dulu (selamat tinggal ingus, persahabatan ini kita akhiri sampai disini), menyisir rambut, berdandan, make minyak wangi. Ini adalah pertama kalinya gue merasa seganteng ini (biasanya make celana sepusar lengkap dengan ingus yang masih nempel di hidung).   

Bokap gue juga rencananya mau nganter gue ke sekolah, tapi tuh orang masih ngorok di tempat tidur. Gue bangungin bokap. Gue bilang “pa, bangun katanya mau nganter aku”. Bokap gue jawab “tunggu bentar, papa masih ngantuk”. Gue tinggal makan sampe kelar bokap malah nggak bangun – bangun (nggak bangun – bangun? Apa yang terjadi?). Gue bangunin lagi. Gue bilang kalo gue mau telat. Akhirnya bokap bangun juga, bokap cepet – cepet pake baju dan celana (sebelumnya bokap Cuma make sarung). Pas mau berangkat udah naek motor bokap lupa pake helm. Bokap turun dari motor lalu ngambil helm ke dalam rumah. Bokap naek motor lagi. Bokap lupa lagi kalo dia belum ambil kunci motor. Bokap gue turun dari motor mau ambil kunci ke dalem rumah, sedang gue nunggu di atas motor. Dari dalam rumah, bokap gue tereak “Yung bantu papa cari kuncinya, papa lupa naruh kuncinya”. Gue pun segera turun lalu membantu mencari kunci motor yang bokap lupa naruhnya. Seluruh anggota keluarga mulai dari bokap, nyokap, gue, adek gue, embah sampe engkong juga ikut dalam pencarian kunci yang lupa naruhnya. hampir limabelas menit kita belum nemuin dimana kunci motor berada. Saat bokap duduk di kursi karena lelah cari kunci yang ngak ketemu – ketemu, gue perhatikan celana jeans yang di pake bokap. Gue lihat di pahanya bokap ada tonjolan yang mencurigakan. Gue bilang ke bokap “papa, itu apaan di saku celana? Kok ada yang nonjol – nonjol gitu ”.apaan yang nonjol – nonjol Yung? bokap sambil memeriksa sakunya. Bokap memeriksa lalu nyengir “oh ini kuncinya, papa lupa naruhnya di saku celana”. Dalam hati gue berguman “hoo, la dasar udah tua”. Gue dan bokap naek motor lagi, dan masalah baru muncul lagi, perut bokap mules. Bokap turun lagi lalu  tanpa berucap sepatah kata apapun meninggalkan gue ke WC dalam rumah. Gue treak “papa, kenapa ngak jadi? Ada masalah apa lagi?”. Bokap nyahut “perut papa mules. tunggu sebentar, papa mau ke WC dulu”.

Lama menunggu bokap yang sedang menyalurkan hasrat yang tak dapat di tahankan olehnya, bokap melanjutkan lagi untuk nganter gue. Dan masalah datang lagi untuk kesekian kalinya.  Bokap lupa ganti celana. bokap tadi pas ke WC gara gara perutnya mules, dia mengganti celananya dengan sarung. Untuk sekian kalinya gue bersabar gara – gara kelupaan yang mendera bokap gue.

Setelah melewati proses yang begitu amat panjang, penuh kesabaran hingga nangis darah dan getah empedu keluar kemana – mana. singkat cerita gue udah nyampe di sekolah baru gue dangan selamat sentosa. Tepat di depan gerbang sekolah, si pria kecil yang kelihatan culun dan norak (baca : gue) berdiri dengan muka yang lusuh akibat awal paginya yang amat buruk. Langkah demi langkah ia jejaki tanah masuk ke dalam gedung sekolah. Masuk sendirian seperti orang asing yang tak di kenal sebelumnya. Di tempat tersebut telah ramai dipenuhi siswa – siswa baru juga. Si pria kecil tersebut melihat mereka siswa baru tersebut seperti telah akrab sebelumnya. Si pria kecil itu berfikiran mungkin mereka adalah teman lama. Keadaan tempat yang amat ramai berbanding terbalik dengan keadaan hati si pria kecil yang kesepian. Si pria kecil terlihat seperti orang bego, merasa tersisihkan, bengong karena tak ada yang di kenalnya. Si pria kecil rupanya tak sendirian, dia juga menemukan seseorang yang mempunyai penderitaan sama dengannya “Sendirian seperti orang bego”. Si pria kecil mencoba berkenalan dengan dirinya yang sendirian. Si pria kecil berkenalan dengan tampang gahar karena menuruti nasihat teman – teman sdnya dulu agar tidak terkesan penakut. Saat dia yang sendirian mengalihkan wajahnya kearah si pria kecil, si pria kecil terkejut bukan main dan berteriak (di dalam hati) mengetahui bahwa yang diajak kenalan adalah seorang yang mengidap sindrom ketua’an. Sebut saja Si muka tua. Yah, mukanya lebih tua dibanding dengan ukuran tubuhnya. Mukanya dipenuhi dengan bulu kumis yang seperti belantara hutan kalimantan yang lebat. Si pria kecil saat itu rada takut menatap wajahnya dikarenakan kumis yang mengerikan itu. sangkin takutnya si pria kecil menatap matanya, si pria kecil menatap matanya sendiri tapi orang – orang di sekitarnya mengira si pria kecil tersebut mengidap ayan.

Bunyi bel menggema di seluruh area sekolah, semua siswa baru di arahkan oleh para guru untuk dikumpulkan lapangan. Ini adalah acara pembagian kelas. Saat semua anak berkumpul di lapangan. Gue dan Si muka tua juga ikut berkumpul di dalamnya. Gue mengamati beberapa orang – orang di sekeliling gue. gue mendapati lagi bahwa ada yang memiliki muka yang lebih tua daripada Si muka tua. Bukan hanya kumis yang selebat belantara kalimantan, tapi dia juga mempunyai jenggot yang seperti jenglot. Tak sampai di situ, dengan muka yang kayak engkong gue dia tampil dengan pd-nya mengenakan celana merah khas sd sepusar (itu style gue dulu waktu sd lengkap dengan tambahan aksesoris ingus di hidung yang selalu menemani), gue hanya bisa meringis dan berkata dalam hati “tuh orang lebih mirip badut sulap dari pada seorang siswa baru”.
Gue jadi stres mengapa disini banyak anak – anak yang memiliki muka menyeramkan lebih seram dari engkong gue. ingin rasanya gue mundur dari sekolah ini karena mengapa hanya gue aja yang kelihatan seperti anak muda, tampan, sexy, eksotis, dan menawan (preeet!!!!). gue juga melihat lagi nampak dari jauh ada satu anak laki – laki pendek yang menggunakan pakaian yang tak seperti kebanyakan siswa yang berkumpul di lapangan. Yang ini lebih aneh dari anak laki – laki lainnya, selain memiliki kumis dan jenggot yang lebih menyeramkan dari yang lain, dia juga mempunyai jambang seperti Elvis presley, muka yang keriput  dan rambut uban dimana – mana sampe ke kumis, jenggot, dan jambangnya. Gue putuskan untuk nyamperin dia. Gue ajak berkenalan masih dengan tatapan yang gahar. Gue ngomong “anak sekolahan mana loe ?” dia melihat ke arah gue dan berkata “anak sekolahan, matamu rabun! Aku guru di sini cuk!!” mengetahui bahwa yang sepertinya tua ini dan memang bener – bener tua adalah seorang  guru, gue langsung lari terbirit – birit sembunyi ke kerumunan siswa di lapangan. Gue takut jika tuh guru mengenali gue, apa yang terjadi jika dia mengenali gue? apa yang harus gue lakukan? Apa gue akan di hukum?. Gue jadi ketakutan sendiri sampe kejang – kejang di tengah lapangan (nggak ding).
Pengelompokan kelas dimulai. Gue dan Si muka tua menanti saat saat yang amat dinanti. Gue harap muda – mudahan gue enggak satu kelas sama Si muka tua, jika itu terjadi gue bisa mati kegelian ngeliat kumisnya yang menggelikan itu. Dan apa yang terjadi sodara – sodara ? Jeng….. jeng…. Jeng…. Jebret goolllll (nggak ding), Harapan gue terkabul gue enggak satu kelas sama Si muka tua. Kami terpaut jarak yang amat jauh. Si muka tua ada di kelas 7A yang katanya unggulan (katanya loh) sedangkan gue dengan malangnya ada di kelas yang terbawah nomor dua, kelas 7G. tapi tak apalah, seorang pahlawan muncul dari yang terendah.
Setelah mengetahui kelasnya masing -  masing, Semua anak berbaris menurut kelasnya dan dipandu kekelasnya oleh pembina dari kakak – kakak OSIS. Sewaktu rombongan kelas gue mulai berjalan menuju ke ruang kelas, gue masih melamun dengan fikiran – fikiran menakutkan yang membayangi gue. gue takut dengan siswa – siswa yang mukanya tua bahkan lebih tua dari engkong gue. saat gue sadar dari lamunan gue, gue di tinggal sendirian di tengah – tengah lapangan. Gue yang kebingungan berjalan – berjalan untuk menemukan dimana kelas gue berada. Setelah gue melewati sembilan puluh sembilan rintangan dan seribu satu kesulitan, gue pun menemukan dimana letak kelas gue. saat gue memasuki kelas, semua anak perempuan menjerit histeris. mungkin mereka histeris karena melihat begitu eksotisnya gue. secara gitu loh?  Keturunan blasteran jawa tegal – betawi, penampilan menawan bak model majalah sampul binatang ternak, orang paling tampan di dunia dan di akhirat tidak menerimanya, yang selalu dikejar – kejar orang setiap waktu karena belum bayar utangnya, dan masih banyak lagi kelebihan – kelebihan dari gue. Gue jadi tersipu malu, gue bilang “aw, trimakasih udah disambut kayak artis terkenal aja. Aku jadi malu.” Sambil menutup muka dengan kedua telapak tangan. KeGRan gue berhenti sampai seseorang tereak “tadi dimana kecoaknya!!!!”. Ternyata sambutan yang begitu histeris bukan untuk gue tetapi karena di kelas gue ada yang melihat kecoak. Gue jadi malu sendiri, ingin rasanya saat itu gue pura – pura kejang – kejang kena ayan tapi ku urungkan niat. Untung saja di kelas nggak ada yang denger gue ngomong tadi akibat ramainya keadaan kelas.
Seperti biasa, awal adalah perkenalan seluruh siswa di kelas. Semua memperkenalkan diri dan menyebutkan daerah tempat tinggalnya masing – masing. Ada yang berasal dari daerah kota sampai ada juga dari pelosok hutan belantara. Tapi dari perkenalan itu ada yang mengganjal dalam diri gue. ada satu anak yang sepertinya  jealous sama gue. Namanya Satrio. Nggak tau kenapa bisa gitu, dia selalu ngejailin gue. Sebagai pria yang cinta akan kedamaian,  gue selalu sabar dan nggak pernah ngebales (kebanyakan ngomong, loe sebenernya takut kan ?). Gue menunggu moment yang tepat untuk ngebalesnya. Gue telusuri seluk – beluk tetek – bengek tentang tu orang. Belakangan gue ketahui bahwa dia merupakan setengah bencong (berkebalikan dengan arti namanya) dan terkucilkan di sdnya dulu. Gue tahu motifnya ngejailin gue. mungkin dia pengen ngerubah image yang ada dalam dirinya sebagai seorang setengah bencong waktu sd menjadi nakal supaya kelihatan seperti anak laki – laki lainnya yang malah ngebikin gue nahan esmosi (emosi ding) dan pengin mukul K.O tuh orang.
Setelah perkenalan semua siswa dikelas yang gue lupa semua namanya tadi. Acara dilanjutkan dengan kegiatan MOS. Singkat cerita gue terkena hukuman dan dikerjain oleh kakak – kakak OSIS. Gue disuruh berakting menjadi tukang bakso yang mengalami kemalangan nasib karena gerobaknya kebakaran. Sulit bagi gue untuk berakting menjadi abang tukang bakso karena tidak pernah ada sebelumnya  seseorang yang tampannya melebihi leonardo de caprio berakting menjadi abang tukang bakso dan hari itu terjadi.
Sesudah melewati hari yang begitu amat melelahkan bagi gue dengan kemalangan – kemalangan yang selalu saja mendera hidup gue pada hari itu. gue pulang kerumah dari hari pertama gue di sekolah baru. banyak hal yang baru dalam diri gue pada hari ini. Banyak yang gue rubah dalam hidup gue yang lalu untuk sekarang menjadi pelajar baru di sekolah yang baru pula. Perubahan gue lakukan karena gue beranggapan bahwa “perubahan akan lebih mudah berada pada momen yang baru dan perubahan dilakukan untuk menjadi lebih baik”. Banyak juga yang gue tinggalkan dalam hidup gue yang lalu dari seorang anak culun sd menjadi anak smp yang lebih gaul. Gue memulainya dari perpisahan dengan ingus kesayangan gue yang menemani gue sejak gue pertama kali masuk sd. Gue juga meninggalkan style celana sepusar yang menjadi ciri khas gue dulu. Gue juga melakukan apa yang seperti Satrio (manusia setengah bencong) lakukan. Gue merubah image dalam diri gue. gue ingin berubah yang semula anak ingusan, culun, suka cengengesan, dan hidup lagi menjadi anak yang rajin, sopan, cinta damai, pintar, taat pada orang tua, dan dingandrungi banyak perempuan. Gue merubah semua sifat – sifat buruk gue, gue harap hal ini akan berdampak positif bagi gue dan gue juga berharap kalo gue bisa menjadi lebih baik dari yang lalu.  



1 komentar:

  1. Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com

    Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
    -Situs Aman dan Terpercaya.
    - Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
    - Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
    - Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
    - Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
    -Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
    - 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI

    8 Permainan Dalam 1 ID :
    Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66

    Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
    BBM: 2AD05265
    WA: +855968010699
    Skype: smsqqcom@gmail.com

    BalasHapus