Menurut gue,
melestarikan kebudayaan itu sangatlah penting. Yap penting karena budaya
merupakan ciri unik dan lambang dari kekayaan peradaban dari suatu bangsa.
Menurut survey yang gue dapatkan (dapet
dari mana loe?), dengan hasil yang sungguh amat mencengangkan dikatakan
bahwa sejarah menghitung dalam setiap harinya sedikitnya ada lima belas budaya yang punah dalam dunia baik bahasa,
tarian, maupun tradisi. Itu berarti dalam dua hari ada tiga puluh budaya, dalam
tiga hari ada empat puluh lima budaya yang lenyap, dan dalam setahun ada …………….
pokoknya banyak sekali budaya yang lenyap
dari bumi ini (waw, aku terkejut).
Melestarikan budaya juga bertujuan agar budaya yang dimiliki oleh bangsa kita
tidak di curi – curi oleh bangsa lain seperti yang dilakukan tetangga sebelah
kita, siapa lagi kalo bukan yang ngomong bahasa indonesianya masih primitif.
“Kita sebagai generasi muda yang cerdas, hendaknya melestarikan kebudayaan
dalam masyarakat kita. Apalagi kita sebagai orang jawa yang selalu patuh akan
tradisi dan moral yang diturunkan dari nenek moyang. Kalau bukan kita, siapa
lagi? jangan kalah sama londo – londo di jogja bisa bahasa jawa malah bisa
ndalang juga ” itu sepengal amanat
upacara yang selalu gue denger sampe bosen setiap upacara bendera dari ibu
Ningrum, kepala sekolah gue waktu sd. Dia adalah kepala sekolah baru saat gue
kelas empat. Dia merupakan nenek keturunan dari orang jawa asli, bahkan denger
- denger kata orang dia masih merupakan
keturunan dari anggota kerajaan. Dan denger – denger juga kata orang leluhurnya
yang masih keturunan dari anggota kerajaan merupakan kepala cleaning service
kerajaan (nggak ding, kate siape loe?
ngaco). Dia juga merupakan pelopor pelestarian kebudayaan antar sekolah – sekolah
sd sekecamatan di daerah gue dan juga merupakan pelopor dari timbulnya krisis
kecerdasan anak – anak sd sekecamatan di daerah gue. kecintaanya akan budaya
jawa membuat malapetaka dan bencana yang maha dasyat bagi sekolah gue terutama
yang paling besar dampaknya menimpa anak – anak
sd termasuk gue pada waktu itu.
Pada waktu semua
kejadian ini bermula (lebay), saat
dalam suasana upacara bendera yang hikmat dan
juga ramai gemuruh karena anak – anak semua sendang asiknya ngerumpi
ditengah teriknya matahari pagi dalam lapangan, diriku melihat kedalam barisan
tempat guru – guru berada tampak seorang wanita paruh baya yang asing bagi ku.
Bukan diriku saja yang menyadari hal aneh ini, tetapi teman – teman ku juga
mulai menyadarinya.
Di tempat lapangan yang
semula panas ramai gemuruh, gaduh, dan rusuh tiba – tiba menjadi diam sunyi
senyap sampai langit menjadi mendung saat dia mulai berjalan mendekati mic
untuk mengenalkan diri ketika dalam sesi akhir upacara, pemberian pengumuman.
Aku menduga bahwa dia adalah guru baru di sekolah. Yap seperti dugaanku, dia
memang guru baru. Namanya ibu Ningrum. Dia akan mengampu pada pelajaran bahasa
jawa. Namun ada hal yang mencengangkan dari pada kabar guru baru, selain
menjadi guru baru ibu Ningrum juga akan menjadi kepala sekolah yang akan
menggantikan kepala sekolah yang lama. diriku (ribet juga ternyata jadi lebay) Gue berharap akan adanya perubahan
yang terjadi dengan pergantian kepala sekolah baru ini, harapan yang sama
seperti rakyat yang berharap akan adanya perubahan yang terjadi dengan
pergantian pemimpin pada saat musim pencoblosan.
Kabar pergantian
kepala sekolah ini menjadi tending topic yang
sering di perbincangkan antar anak – anak sesekolahan. Tingkahlakunya pun masih
boleh di bilang belum mencurigakan.
Malapetaka terjadi
setelah satu bulan berlalu, bu Ningrum mulai beraksi. Dia mengeluarkan kebijakan
– kebijakan yang menurut gue itu aneh. Seperti begini. ketika saat pelajaran
bahasa jawa, jika menulis harus menggunakan huruf jawa, jika berbicara harus
menggunakan bahasa jawa krama, serta setiap pertemuan akan diadakan tes tentang
wawasan kebudayaan jawa. Ini membuat gue fustasi setengah mati karena walaupun
gue lahir di jawa bagian pelosok desa terpencil, gue berasal dari keturunan
orang betawi-tegal. Leluhur gue yang dari tegal pun memakai bahasa indonesia.
Pernah dalam suatu tes gue menjawab soal dengan pengetahuan gue menurut yang
leluhur gue ajarkan.
- Sebutna setunggal wae alat musik asli saka kabudayaan jawa tengah!
Gue jawab tanjidor
- Sebutna tarian asli saka kabudayaan jawa tengah!
gue jawab tari yapong, tari topeng betawi, tari cokek
- Sebutna lagu dolanan asli saka kabudayaan jawa tengah!
Gue jawab kicir – kicir
- Sebutna cerita – cerita rakyat sing ana ing jawa tengah!
Gue jawab si Pitung, nyai Dasima
- Sebutna gaman saka kabudayaan jawa tengah!
Gue jawab golok
Dan ada satu kebijakan
yang menurut gue itu yang teraneh dan tergila dari kebijakan – kebijakan aneh
yang ia buat. Yaitu menyanyikan lagu tradisional jawa tengah, pithik tukung.
Kira – kira liriknya begini.
Aku dhuwe pithik, pithik tukung…..
Saben dina, tak pakani jagung
Petok gogok petok petok ngendhog siji,
Tak teteske…. Kabeh trondhol…dhol….
Tanpa wulu…. Megal…. Megol … gol .. gol.. gawe guyu..
Bukan sembarang menyanyi,
tetapi di tiap kesempatan kita di suruh untuk menyanyikannya. Seperti saat
sebelum memulai pelajaran, ketika istirahat sekolah, ketika sebelum pulang
sekolah, ketika akan memulai senam pagi setiap sabtu, bahkan setiap upacara
bendera setelah menyanyikan lagu Indonesia raya. Pernah suatu ketika saat kelas
gue udah selesai jam pelajaran dan akan bergegas pulang, namun tiba – tiba saja
si ibu Ningrum menyetop kami dan kami di suruh untuk berkumpul di ruang kelas.
Sesat kemudian dia datang keruang kelas kami dengan membawa tape recorder. lalu apa yang terjadi kemudian saudara sekalian ? tepat sekali
jawaban anda bung. K*mpret , kita
disuruh lagi buat nyanyi lagu pithik tukung untuk sekian kalinya pada hari ini
setelah pagi tadi kita telah menyanyikannya berpuluh – puluh ribu kali hingga
memotong dua jam pelajaran. Setelah berjuta – juta detik kemudian hingga salah
satu teman gue epilepsinya kumat dan dibawa ke pukesmas dengan mobil jenazah,
kami baru diperbolehkan pulang kerumah. Sampai dirumah gue kena marah sama
bokap – nyokap gue karena baru pulang ketika waktu menunjukan pukul setengah
lima sore. bokap tanya sama gue, “yung,
kenapa kau baru pulang sekarang hah?”(dengan
logat yang di buat – buat batak, tapi malah jadi kayak orang timur). Gue
jawab, “nganu pa, tadi sebelum pulang
sekolah satu kelas di suruh nyanyi lagu jawa sama si kepala sekolah baru”.
Bokap belum percaya sepenuhnya, “ah masa,
jangan kau bohongi bapak. Kau pasti main bola sama temen – temen kau?”(masih dengan logat anehnya). Gue
ngebantah, “aku jujur pa, tadi malah ada
temen ku yang epilepsinya kumat. Dia dibawa kerumah sakit pake mobil jenazah”.
Bokap gue syok, “yang bener aja yung,
tapi buat apa nyanyi – nyanyi sampai sore begini? Emang kelas kamu mau ikut
lomba paduan suara sekecamatan?”. Gue jawab, “entahlah pa. aku mau minum dulu, mulut ku kering gara – gara kebanyakan
nyanyi.”
Si pithik tukung,
julukan baru kepala sekolah gue berhasil membuat perbedaan yang signifikan.
Kepopuleran lagu pithik tukung di desa gue diatas lagu dari band – band yang
terkenal pada waktu itu. lagu pithik tukung menjadi lagu yang paling nge-hits di desa gue melampaui lagu cinta dalam
hati dari Ungu yang pada saat itu menduduki tangga lagu paling atas di
acara musik dasyat. Lagu pithik
tukung juga berhasil merenggut nyawa salah satu temen gue. pada malam setelah
bernyanyi waktu itu, gue mendengar suara serine ambulans melewati rumah gue.
keesokan harinya diketahui bahwa temen gue yang kemarin kumat epilepsinya di
sekolah akibat kebanyakan nyanyi lagu pithik tukung, menghembuskan nafas
terakhirnya pada malam kemarin. Dan di akhir hembusan nafas terakhirnya dia
masih bernyanyi “Aku dhuwe pithik…. Tanpa
wulu…. Megal…. Megol … gol .. gol.. gawe guyu...”. selamat jalan kawan,
doaku selalu menyertaimu. (nggak ding,
just kidding. Kena tipu He… he… he…. Jangan terlalu serius bacanya. Inget
komedi bro…).
Lagu pithik tukung
memberikan efek yang besar bagi kami. Lagu pithik tukung seperti nyanyian
pencuci otak yang menakutkan bagi gue. lebih menakutkan dari lagu lingsir
wengi. Gue mempunyai teori bahwa lagu ini merupakan lagu untuk mengendalikan
pikiran kami, mencuci dan mengkosongkan otak kami. Gue mengamati bahwa semenjak
gue mengenal lagu ini gue menjadi bodoh(loe
emang dari dulu bodoh, bego!!! Baru nyadar), nilai pelajaran gue jelek
semua. Gue seperti orang gila, gue jadi pengen nyanyi lagu itu lagi dan lagi
tanpa henti. Pikiran gue memaksa untuk melakukannya (melakukan apa hayo?) tapi hati selalu menolaknya. Gue jadi bingung,
gue selalu bimbang karena pikiran dan hati yang tak sejalan. Apa yang gue harus lakukan? Akankah ku
akhiri saja hidupku sampai disini.(Nggak
ding, Cuma mendramatisir keadaan). Gue juga mengamati kelakuan dari temen –
temen gue. rata – rata dari mereka mempunyai pandangan yang kosong, suka
melamun, lalu tersenyum – senyum sendiri, berbicara pada teman khayalannya,
tertawa terbahak – bahak tanpa ada sebab, lalu kemudian menangis dan mengamuk.
(itu mah namanya gangguan jiwa).
Bahkan temen temen gue yang biasa jadi langganan juara kelas, nilai – nilai
pelajarannya merosot drastis. Ini
merupakan awal dari kehancuran generasi muda yang ada di sekolahan gue.
Setelah berbulan –
bulan dalam pemerintahan ibu si pithik tukung, tibalah masa dimana semua siswa
terutama gue paling membenci masa – masa itu. yap betul, ujian akhir semester.
Gue amat takut sekali dengan uas karena gue selalu mendapatkan nilai yang pas –
pasan plus dengan belas kasihan dari guru – guru karena gue pasang tampang
memelas di hadapannya. Pada uas ini gue betul – betul nggak bisa konsentrasi
dalam belajar. Kembali ke masalah awal, pikiran gue kacau gara – gara lagu
pithik tukung. Gue selalu ingin menyanyikannya. Kadang saat gue tidur, gue juga
mengigau menyanyikan lagu itu. saat
sedang mengerjakan soal ujian gue selalu teringat tentang lagu itu dan ingin
menyanyikannya. Tak hanya gue saja yang merasakan perasaan ini tetapi semua
temen gue juga merasakannya. Gue takut nilai ujian ku ancur untuk kesekian
kalinya dan gue benci saat gue harus memasang tampang memelas di hadapan guru
untuk mendapatkan belas kasihan darinya.
Gara – gara lagu
pithik tukung untuk sekian kalinya gue membuat bokap – nyokap gue menangis
terharu karena begitu kritisnya nilai yang gue dapatkan. Tak hanya gue yang
mendapatkan nilai kritis, temen – temen gue bahkan mendapat nilai yang assssudahlah jangan di bicarakan lagi.
kepala sekolah sukses membawa perubahan dalam sekolah kami, persentase angka
kenaikan kelas yang semula biasanya berata – rata sembilan puluh persen
sekarang berubah menjadi kurang dari empat puluh persen(trimakasih kepala sekolah atas perubahan yang diberikan). Dan pada
tahun itu juga kepala sekolah kami di mundurkan dari jabatannya dan di bebas
tugaskan dari tugas mengajar (baca : dipecat dari guru). Karena dinas
ditakutkan jika si pithik tukung masih dalam tugas mengajar akan menimbulkan
dampak kebodohan yang akan meluas sampai ke seluruh Indonesia. Dari semua itu
ada fakta yang paling mencengangkan bahwa sekolah gue menjadi sekolah dengan
tingkat persentase kenaikan kelas yang paling rendah dalam sejarah sejak
berdirinya sekolah dan gue mencatatkan sejarah sekolah menjadi orang yang
paling beruntung bisa naik kelas dengan nilai yang luarbiasa mengharukan dan
bikin semua orang meneteskan air mata jika melihat karenanya.
Menurut gue baik juga
kita mempunyai sifat menghargai dan melestarikan budaya, apalagi budaya tersebut
merupakan warisan dari nenek moyang kita. Tetapi dalam melakukannya harus
dilandasi dengan batasan batasan tertentu. Tak seperti yang kepala sekolah gue
lakukan. Gue tau bahwa niatnya penuh dengan kebaikan, tetapi jika dilakukan
dengan berlebihan akan berbanding terbalik dengan tujuannya. Terkadang
melakukan hal –hal dengan dilebih - lebihkan akan menjadi buruk hasilnya, walau
semulia apapun hal yang kita akan lakukan. Di dalam pandangan kacamata kita
mungkin itu akan terlihat baik, tapi apakah pandangan dalam kacamata kita sama
dengan kacamata orang lain. Kepala sekolah gue memandang hal yang dilakukannya
hanya dalam persepsinya saja tanpa tau apa yang di rasakan oleh kami. Kadang
juga jika apa yang kita lakukan untuk seseorang demi kebaikan orang tersebut
jika dilandasi dengan rasa keegoisan, akan buruk juga hasilnya. Kepala sekolah gue
juga egois saat dia menyuruh kami untuk menyanyikan lagu pithik tukung selama
berjam – jam setelah jam pelajaran sekolah telah usai, dia tak tau bahwa kami
juga manusia yang punya rasa lelah setelah harus berfikir keras dalam jam
pelajaran. Dari kisah gue ini, gue hanya ingin semua orang yang udah baca
cerita gue ini bisa ngertiin perasaan orang satu sama lain. Jangan egois
sendiri jika mengambil mengambil tindakan. mungkin aja menurut loe itu baik, tapi apakah menurut orang lain akan baik
juga untuknya? Kali aja kisah ini bisa ngebuat loe berubah dari yang semula
egois menjadi penuh perhatian. Dan mudah – mudahan setelah gue ngomong panjang
lebar begini, loe ngerti maksud dari apa yang tadi gue omongin.

Tidak ada komentar
Posting Komentar