cover

cover

31 Mar 2014

Kepala Sekolahku Si Pithik Tukung




Menurut gue, melestarikan kebudayaan itu sangatlah penting. Yap penting karena budaya merupakan ciri unik dan lambang dari kekayaan peradaban dari suatu bangsa. Menurut survey yang gue dapatkan (dapet dari mana loe?), dengan hasil yang sungguh amat mencengangkan dikatakan bahwa sejarah menghitung dalam setiap harinya sedikitnya ada lima belas  budaya yang punah dalam dunia baik bahasa, tarian, maupun tradisi. Itu berarti dalam dua hari ada tiga puluh budaya, dalam tiga hari ada empat puluh lima budaya yang lenyap, dan dalam setahun ada ……………. pokoknya banyak sekali  budaya yang lenyap dari bumi ini (waw, aku terkejut). Melestarikan budaya juga bertujuan agar budaya yang dimiliki oleh bangsa kita tidak di curi – curi oleh bangsa lain seperti yang dilakukan tetangga sebelah kita, siapa lagi kalo bukan yang ngomong bahasa indonesianya masih primitif.

Kita sebagai generasi muda yang cerdas, hendaknya melestarikan kebudayaan dalam masyarakat kita. Apalagi kita sebagai orang jawa yang selalu patuh akan tradisi dan moral yang diturunkan dari nenek moyang. Kalau bukan kita, siapa lagi? jangan kalah sama londo – londo di jogja bisa bahasa jawa malah bisa ndalang juga ”  itu sepengal amanat upacara yang selalu gue denger sampe bosen setiap upacara bendera dari ibu Ningrum, kepala sekolah gue waktu sd. Dia adalah kepala sekolah baru saat gue kelas empat. Dia merupakan nenek keturunan dari orang jawa asli, bahkan denger - denger  kata orang dia masih merupakan keturunan dari anggota kerajaan. Dan denger – denger juga kata orang leluhurnya yang masih keturunan dari anggota kerajaan merupakan kepala cleaning service kerajaan (nggak ding, kate siape loe? ngaco). Dia juga merupakan pelopor pelestarian kebudayaan antar sekolah – sekolah sd sekecamatan di daerah gue dan juga merupakan pelopor dari timbulnya krisis kecerdasan anak – anak sd sekecamatan di daerah gue. kecintaanya akan budaya jawa membuat malapetaka dan bencana yang maha dasyat bagi sekolah gue terutama yang paling besar dampaknya menimpa anak – anak  sd termasuk gue pada waktu itu.
Pada waktu semua kejadian ini bermula (lebay), saat dalam suasana upacara bendera yang hikmat dan  juga ramai gemuruh karena anak – anak semua sendang asiknya ngerumpi ditengah teriknya matahari pagi dalam lapangan, diriku melihat kedalam barisan tempat guru – guru berada tampak seorang wanita paruh baya yang asing bagi ku. Bukan diriku saja yang menyadari hal aneh ini, tetapi teman – teman ku juga mulai menyadarinya.
Di tempat lapangan yang semula panas ramai gemuruh, gaduh, dan rusuh tiba – tiba menjadi diam sunyi senyap sampai langit menjadi mendung saat dia mulai berjalan mendekati mic untuk mengenalkan diri ketika dalam sesi akhir upacara, pemberian pengumuman. Aku menduga bahwa dia adalah guru baru di sekolah. Yap seperti dugaanku, dia memang guru baru. Namanya ibu Ningrum. Dia akan mengampu pada pelajaran bahasa jawa. Namun ada hal yang mencengangkan dari pada kabar guru baru, selain menjadi guru baru ibu Ningrum juga akan menjadi kepala sekolah yang akan menggantikan kepala sekolah yang lama. diriku (ribet juga ternyata jadi lebay) Gue berharap akan adanya perubahan yang terjadi dengan pergantian kepala sekolah baru ini, harapan yang sama seperti rakyat yang berharap akan adanya perubahan yang terjadi dengan pergantian pemimpin pada saat musim pencoblosan.
Kabar pergantian kepala sekolah ini menjadi tending topic yang sering di perbincangkan antar anak – anak sesekolahan. Tingkahlakunya pun masih boleh di bilang belum mencurigakan.
Malapetaka terjadi setelah satu bulan berlalu, bu Ningrum mulai beraksi. Dia mengeluarkan kebijakan – kebijakan yang menurut gue itu aneh. Seperti begini. ketika saat pelajaran bahasa jawa, jika menulis harus menggunakan huruf jawa, jika berbicara harus menggunakan bahasa jawa krama, serta setiap pertemuan akan diadakan tes tentang wawasan kebudayaan jawa. Ini membuat gue fustasi setengah mati karena walaupun gue lahir di jawa bagian pelosok desa terpencil, gue berasal dari keturunan orang betawi-tegal. Leluhur gue yang dari tegal pun memakai bahasa indonesia. Pernah dalam suatu tes gue menjawab soal dengan pengetahuan gue menurut yang leluhur gue ajarkan.
  1. Sebutna setunggal wae alat musik asli saka kabudayaan  jawa tengah!
Gue jawab tanjidor
  1. Sebutna tarian asli saka  kabudayaan jawa tengah!
gue jawab tari yapong, tari topeng betawi, tari cokek
  1. Sebutna lagu dolanan asli saka kabudayaan jawa tengah!
Gue jawab kicir – kicir
  1. Sebutna cerita – cerita rakyat sing ana ing jawa tengah!
Gue jawab si Pitung, nyai Dasima
  1. Sebutna gaman saka kabudayaan jawa tengah!
Gue jawab golok
Dan ada satu kebijakan yang menurut gue itu yang teraneh dan tergila dari kebijakan – kebijakan aneh yang ia buat. Yaitu menyanyikan lagu tradisional jawa tengah, pithik tukung. Kira – kira liriknya begini.
Aku dhuwe pithik, pithik tukung…..
Saben dina, tak pakani jagung
Petok gogok petok petok ngendhog siji,
Tak teteske…. Kabeh trondhol…dhol….
Tanpa wulu…. Megal…. Megol … gol .. gol.. gawe guyu..

Bukan sembarang menyanyi, tetapi di tiap kesempatan kita di suruh untuk menyanyikannya. Seperti saat sebelum memulai pelajaran, ketika istirahat sekolah, ketika sebelum pulang sekolah, ketika akan memulai senam pagi setiap sabtu, bahkan setiap upacara bendera setelah menyanyikan lagu Indonesia raya. Pernah suatu ketika saat kelas gue udah selesai jam pelajaran dan akan bergegas pulang, namun tiba – tiba saja si ibu Ningrum menyetop kami dan kami di suruh untuk berkumpul di ruang kelas. Sesat kemudian dia datang keruang kelas kami dengan membawa tape recorder. lalu apa yang terjadi kemudian saudara sekalian ? tepat sekali jawaban anda bung. K*mpret , kita disuruh lagi buat nyanyi lagu pithik tukung untuk sekian kalinya pada hari ini setelah pagi tadi kita telah menyanyikannya berpuluh – puluh ribu kali hingga memotong dua jam pelajaran. Setelah berjuta – juta detik kemudian hingga salah satu teman gue epilepsinya kumat dan dibawa ke pukesmas dengan mobil jenazah, kami baru diperbolehkan pulang kerumah. Sampai dirumah gue kena marah sama bokap – nyokap gue karena baru pulang ketika waktu menunjukan pukul setengah lima sore. bokap tanya sama gue, “yung, kenapa kau baru pulang sekarang hah?”(dengan logat yang di buat – buat batak, tapi malah jadi kayak orang timur). Gue jawab, “nganu pa, tadi sebelum pulang sekolah satu kelas di suruh nyanyi lagu jawa sama si kepala sekolah baru”. Bokap belum percaya sepenuhnya, “ah masa, jangan kau bohongi bapak. Kau pasti main bola sama temen – temen kau?”(masih dengan logat anehnya). Gue ngebantah, “aku jujur pa, tadi malah ada temen ku yang epilepsinya kumat. Dia dibawa kerumah sakit pake mobil jenazah”. Bokap gue syok, “yang bener aja yung, tapi buat apa nyanyi – nyanyi sampai sore begini? Emang kelas kamu mau ikut lomba paduan suara sekecamatan?”. Gue jawab, “entahlah pa. aku mau minum dulu, mulut ku kering gara – gara kebanyakan nyanyi.
Si pithik tukung, julukan baru kepala sekolah gue berhasil membuat perbedaan yang signifikan. Kepopuleran lagu pithik tukung di desa gue diatas lagu dari band – band yang terkenal pada waktu itu. lagu pithik tukung menjadi lagu yang paling nge-hits di desa gue melampaui lagu cinta dalam hati dari Ungu yang pada saat itu menduduki tangga lagu paling atas di acara musik dasyat. Lagu pithik tukung juga berhasil merenggut nyawa salah satu temen gue. pada malam setelah bernyanyi waktu itu, gue mendengar suara serine ambulans melewati rumah gue. keesokan harinya diketahui bahwa temen gue yang kemarin kumat epilepsinya di sekolah akibat kebanyakan nyanyi lagu pithik tukung, menghembuskan nafas terakhirnya pada malam kemarin. Dan di akhir hembusan nafas terakhirnya dia masih bernyanyi “Aku dhuwe pithik…. Tanpa wulu…. Megal…. Megol … gol .. gol.. gawe guyu...”. selamat jalan kawan, doaku selalu menyertaimu. (nggak ding, just kidding. Kena tipu He… he… he…. Jangan terlalu serius bacanya. Inget komedi bro…).
Lagu pithik tukung memberikan efek yang besar bagi kami. Lagu pithik tukung seperti nyanyian pencuci otak yang menakutkan bagi gue. lebih menakutkan dari lagu lingsir wengi. Gue mempunyai teori bahwa lagu ini merupakan lagu untuk mengendalikan pikiran kami, mencuci dan mengkosongkan otak kami. Gue mengamati bahwa semenjak gue mengenal lagu ini gue menjadi bodoh(loe emang dari dulu bodoh, bego!!! Baru nyadar), nilai pelajaran gue jelek semua. Gue seperti orang gila, gue jadi pengen nyanyi lagu itu lagi dan lagi tanpa henti. Pikiran gue memaksa untuk melakukannya (melakukan apa hayo?) tapi hati selalu menolaknya. Gue jadi bingung, gue selalu bimbang karena pikiran dan hati yang tak sejalan. Apa yang gue harus lakukan? Akankah ku akhiri saja hidupku sampai disini.(Nggak ding, Cuma mendramatisir keadaan). Gue juga mengamati kelakuan dari temen – temen gue. rata – rata dari mereka mempunyai pandangan yang kosong, suka melamun, lalu tersenyum – senyum sendiri, berbicara pada teman khayalannya, tertawa terbahak – bahak tanpa ada sebab, lalu kemudian menangis dan mengamuk. (itu mah namanya gangguan jiwa). Bahkan temen temen gue yang biasa jadi langganan juara kelas, nilai – nilai pelajarannya merosot drastis.  Ini merupakan awal dari kehancuran generasi muda yang ada di sekolahan gue.
Setelah berbulan – bulan dalam pemerintahan ibu si pithik tukung, tibalah masa dimana semua siswa terutama gue paling membenci masa – masa itu. yap betul, ujian akhir semester. Gue amat takut sekali dengan uas karena gue selalu mendapatkan nilai yang pas – pasan plus dengan belas kasihan dari guru – guru karena gue pasang tampang memelas di hadapannya. Pada uas ini gue betul – betul nggak bisa konsentrasi dalam belajar. Kembali ke masalah awal, pikiran gue kacau gara – gara lagu pithik tukung. Gue selalu ingin menyanyikannya. Kadang saat gue tidur, gue juga mengigau menyanyikan lagu itu.  saat sedang mengerjakan soal ujian gue selalu teringat tentang lagu itu dan ingin menyanyikannya. Tak hanya gue saja yang merasakan perasaan ini tetapi semua temen gue juga merasakannya. Gue takut nilai ujian ku ancur untuk kesekian kalinya dan gue benci saat gue harus memasang tampang memelas di hadapan guru untuk mendapatkan belas kasihan darinya.
Gara – gara lagu pithik tukung untuk sekian kalinya gue membuat bokap – nyokap gue menangis terharu karena begitu kritisnya nilai yang gue dapatkan. Tak hanya gue yang mendapatkan nilai kritis, temen – temen gue bahkan mendapat nilai yang assssudahlah jangan di bicarakan lagi. kepala sekolah sukses membawa perubahan dalam sekolah kami, persentase angka kenaikan kelas yang semula biasanya berata – rata sembilan puluh persen sekarang berubah menjadi kurang dari empat puluh persen(trimakasih kepala sekolah atas perubahan yang diberikan). Dan pada tahun itu juga kepala sekolah kami di mundurkan dari jabatannya dan di bebas tugaskan dari tugas mengajar (baca : dipecat dari guru). Karena dinas ditakutkan jika si pithik tukung masih dalam tugas mengajar akan menimbulkan dampak kebodohan yang akan meluas sampai ke seluruh Indonesia. Dari semua itu ada fakta yang paling mencengangkan bahwa sekolah gue menjadi sekolah dengan tingkat persentase kenaikan kelas yang paling rendah dalam sejarah sejak berdirinya sekolah dan gue mencatatkan sejarah sekolah menjadi orang yang paling beruntung bisa naik kelas dengan nilai yang luarbiasa mengharukan dan bikin semua orang meneteskan air mata jika melihat karenanya.
Menurut gue baik juga kita mempunyai sifat menghargai dan melestarikan budaya, apalagi budaya tersebut merupakan warisan dari nenek moyang kita. Tetapi dalam melakukannya harus dilandasi dengan batasan batasan tertentu. Tak seperti yang kepala sekolah gue lakukan. Gue tau bahwa niatnya penuh dengan kebaikan, tetapi jika dilakukan dengan berlebihan akan berbanding terbalik dengan tujuannya. Terkadang melakukan hal –hal dengan dilebih - lebihkan akan menjadi buruk hasilnya, walau semulia apapun hal yang kita akan lakukan. Di dalam pandangan kacamata kita mungkin itu akan terlihat baik, tapi apakah pandangan dalam kacamata kita sama dengan kacamata orang lain. Kepala sekolah gue memandang hal yang dilakukannya hanya dalam persepsinya saja tanpa tau apa yang di rasakan oleh kami. Kadang juga jika apa yang kita lakukan untuk seseorang demi kebaikan orang tersebut jika dilandasi dengan rasa keegoisan, akan buruk juga hasilnya. Kepala sekolah gue juga egois saat dia menyuruh kami untuk menyanyikan lagu pithik tukung selama berjam – jam setelah jam pelajaran sekolah telah usai, dia tak tau bahwa kami juga manusia yang punya rasa lelah setelah harus berfikir keras dalam jam pelajaran. Dari kisah gue ini, gue hanya ingin semua orang yang udah baca cerita gue ini bisa ngertiin perasaan orang satu sama lain. Jangan egois sendiri jika mengambil mengambil tindakan. mungkin aja menurut loe itu baik, tapi apakah menurut orang lain akan baik juga untuknya? Kali aja kisah ini bisa ngebuat loe berubah dari yang semula egois menjadi penuh perhatian. Dan mudah – mudahan setelah gue ngomong panjang lebar begini, loe ngerti maksud dari apa yang tadi gue omongin.



Tidak ada komentar

Posting Komentar