Mendengar
kata cinta, tiap orang pasti mempunyai persepsi yang berbeda – beda. Tapi
kebanyakan dari mereka mengatakan dan merasakan bahwa cinta itu indah (pendapat tersebut merupakan hasil survey
yang gue lakukan sendiri), cinta membuat seseorang merasa bahagia, cinta
membawa senyum di bibir seseorang yang merasakannya, cinta membawa damai
seseorang yang merasakannya, cinta memuat orang salah tingkah, cinta membuat
seseorang rela berkorban karenanya, dan cinta membuat hidup lebih berguna
karenanya. Tapi menurut gue, cinta itu membuat seseorang menjadi menderita
seperti yang pernah gue alamin.
Waktu
itu gue kelas enam SD. Yap, kelas dimana tahap akhir selama kita belajar di sd
dulu. Kelas yang merupakan penentuan akan berlabuh ke smp mana kita setelah
penantian yang amat panjang kurang lebih enam tahun lamanya kita belajar di sd.
Gue baru sadar bahwa nilai yang gue punya dari sd kelas satu sampe kelas lima
tidaklah begitu baik (atau bisa dibilang
buruk). Setelah gue lihat – lihat nilai gue di rapot ternyata selama ini
gue merupakan salah seorang pelajar yang bodoh. Prestasi yang paling
membanggakan gue dan paling membuat malu bokap nyokap gue adalah ranking 3 dari belakang. Dari penelitian terhadap kehancuran nilai rapot
gue, gue mulai instropeksi diri, gue harus mengubah diri, dari pelajar culun
yang bodohnya minta ampun menjadi pelajar lugu yang banyak mendapat pujuan dari
guru. Mungkin rasanya amat sulit bagi orang yang bodohnya seperti gue. gue juga
waktu itu sempet frustasi karena gue takut nggak bisa memenuhi harapan dari
bokap nyokap gue buat ngelanjutin ke sekolah pilihan mereka. gue mulai berfikir dewasa (ca’ilah bahasa loe ketinggian bung).
Di
sd gue, gue punya temen sekelas satu angkatan yang sama dari kelas satu sampe kelas
enam. Yap, karena di sd gue satu tingkatan kelas hanya punya satu kelas saja.
Jadi gue ampe bosen ngeliat tiap tahun ajaran baru yang ada hanya mereka –
mereka mulu yang jadi temen sekelas gue, jikapun ada yang baru paling murid
pindahan dari kota lain yang paling sekolah Cuma sekolah paling lama sampe tiga
bulan terus pindah sekolah lagi. tapi dari temen temen lawas yang sekelas
bareng ama gue, banyak candaan – candaan, kelucuan – kelucuan, atau
pemakjomlangan yang dari kelas satu sampai ke kelas enam ini. Seperti gue, gue
oleh temen – temen gue sering di jodoh – jodohin ama temen sekelas gue. namanya
Ani. Tidak seperti kebanyakan temen sekelas gue, dia merupakan seorang pria
wanita, juga dia anak yang pintar,
cantik, tinggi, tubuhnya ideal, pokoknya idaman para laki deh. Selain itu gue
inget pada saat dia memandang kearah gue
dan lalu tersenyum rasanya aaaaaaaasuuuuuuuuudahlah kalau begitu (Gue kagak bisa ngejelasin pake kata – kata).
Temen – temen gue juga memberi julukan yang aneh – aneh kepada kita seperti
romeo dan Juliet, sasuke dan sakura, dan
yang paling aneh itu si buruk rupa dan putri cantik (nggak ding). Gue sih nggak begitu suka sama dia. Biarlah apa kata
temen – temen gue yang ngejodoh – jodohin gue ama Ani. Gue nggak peduli ama mereka.
Gue begitu keras belajar bahkan
sebelum mulai tahun ajaran baru, saat masih suasana liburan sekolah yang
seharusnya di isi dengan bermain, bertamasya, bersukaria, gue malah belajar.
Gue belajar keras karena gue nggak mau ngecewain bokap – nyokap gue, gue harus
bisa membuat bangga bokap – nyokap gue. menurut gue inilah kesempatan terakhir
gue di sd untuk bisa ngebuat bangga bokap – nyokap gue. gue mulai buka – buka
buku pelajaran dari awal gue kelas satu. Pertama gue buka buku bahasa
Indonesia, bab pertama tentang belajar membaca. Gue pelajari sebentar buku itu.
gue mempelajari latihan soalnya. Latihannya begini:
Ini Budi
Budi bermain bola
Ini Ibu Budi
Ibu Budi sedang memasak
…………………
Ternyata gue masih bisa
membaca dengan baik, gue melanjutkan ke pelajaran yang lain. Gue membuka buku
matematika. Gue mencari lagi latihan soalnya dan gue melihat jawaban gue pada
waktu kelas satu dulu.
(gambar ini merupakan hasil mengerjakan soal
oleh gue pada waktu kelas satu dulu)
Ternyata gue begitu bodoh pada waktu gue kelas
satu dulu. Gue mencoba untuk memperbaiki jawaban gue. bokap juga mendukung
belajar gue dengan membelikan gue buku latihan soal UASBN dan cemilan buat
temen gue belajar. Bukannya gue belajar malah gue ngemil di meja belajar. Dan apa yang terjadi saudara?........
tepat sekali jawaban anda. Gue kena marah oleh bokap karena gue nggak belajar
malah santai kayak di pantai sambil ngemil dan tiduran di dapan tv dengan kaki
diangkat satu ke tembok.
Hari – hari liburan gue isi dengan belajar tapi
di tengah keasyikan gue belajar (nggak
asyik ding. Malah bikin stress), gue mendapatkan teror sms. Gue tak tau
siapa yang neror gue. setahu gue yang punya nomor hp gue hanya kalangan keluarga
gue dan beberapa temen gue. beberapa temen gue pun gue ancam jika ada yang
ngasih nomor hp gue ke orang lain tanpa seizin gue (maklum gue dulu mantan jawara sekolah). Gue takut yang neror gue
merupakan seorang penculik. Tapi setelah gue pikir – pikir menurut gue yang
meneror gue bukanlah seorang penculik. Gue teliti dari sms yang ia kirimkan ke
gue isinya merupakan bait – bait syair, puisi dan quotes tentang cinta.
ternyata WOW….., gue punya pengagum
rahasia. Gue jadi ke-Ge’eran sendiri, gue jadi kesenengan, gue loncat – loncat
tak karuan salto di atas tempat tidur. Pas gue salto, pas juga gue apes,
pendaratan salto gue tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Gue jatuh dari atas
tempat tidur dan dengan suksesnya kepala gue kepentok meja belajar. Dan
terjadilah tonjolan besar seperti bola di atas ubun – ubun gue yang biasa orang
menyebutnya dengan nama Benjol.
Tak ku sangka ada juga yang ngefans sama diriku
ini, seorang laki – laki kecil beringus serta culun. Gue berikiran sok tau
mungkin dia tertarik sama gue karena kegantengan gue. Gue mencoba tuk
bercermin. Gue melihat kearah cermin, terpampang wajah mengerikan yang
tampaknya gue kenali. Ketika gue melihat wajah orang didalam cermin itu, gue
ketakutan. tanpa basa – basi gue langsung ambil langkah seribu. Gue amati
sekali lagi wajah itu di cermin. Ternyata wajah tersebut adalah wajah gue. Gue
lihat di cermin ada benda hijau besar dan mengerikan menempel di atas bibir
gue, apa itu? timbul pertanyaan. Oh,
ternyata itu adalah ingus gue. tak kusangka ingus gue segede itu. Gue
melanjutkan bercermin gue. Gue selidiki seberapakah tingkat kegantengan gue. apakah mengalahkan Anjasmara atau malah
Leonardo De caprio? Entahlah hanya Tuhan dan wanita yang bisa menilai. Gue
teliti, si pengagum rahasia gue mungkin tertarik akan keseksian ingus gue pada
waktu itu. mungkin? Gue hanya bisa bilang “mungkin”.
Gue tidur – tiduran diatas tempat tidur gue buka hp gue, gue membaca kiriman
smsnya. gue terkesima membaca penggalan - penggalan syair tentang cinta yang ia
kirimkan ke gue. gue jadi penasaran, siapakah
gerangan yang membuat hati ini merasa gundah?. Gue akan menyelidikinya
nanti.
Setelah liburan panjang yang gue isi dengan
giat belajar, tibalah saatnya tahun ajaran baru. Tahun ini adalah tahun terakhir
gue berada di sd ini. Sebelum gue berpisah, gue akan gunakan waktu satu tahun
ini (nggak setahun ding, Cuma beberapa
bulan lagi gue di sd) ngebangun citra baik diri gue di hadapan para guru.
Karena selama ini gue dikenal sama guru sebagai manusia ingus yang suka cengengesan di kelas yang di beri kehidupan
oleh Tuhan. Gue masih penasaran siapa sih yang pengagum rahasia gue. gue
tanyain temen gue satu – satu. Mereka nggak pada mau ngaku. Gue bilang sama
mereka bahwa gue nggak bakal marah. Akhirnya ada yang mau ngaku juga. Si Efendi
temen yang paling deket dan gue percaya yang ngaku bahwa dia yang ngasih nomor
gue ke seseorang. Gue bilang sama Efendi “Fen,
loe ngasih nomor gue kesiapa?”, Efendi jawab “Gue ngasih nomornya loe ke si Vidi” ternyata nomor gue dikasih ke
si Vidi. Vidi adalah temen sekelas gue. Dia juga tidak seperti kebanyakan temen
– temen gue. dia adalah seorang waria wanita. Dia juga merupakan teman
satu meja dengan gue Ani. Eh, tunggu dulu. Temen satu meja dengan Ani? Gue punya firasat aneh. Gue samperin si
Vidi, gue tanyain si Vidi tentang nomor gue. Gue tanya “Vid, loe ya yang kemaren minta nomor hp gue ke Efendi?” Vidi jawab
“ya, emangnya kenapa?” Gue tanya lagi
“loe sebarin ke siapa aja?” Vidi
jawab lagi “gue nggak sebarin ke siapa –
siapa kok, lagian yang minta nomor loe bukan gue. tapi…….”. lalu si Vidi
mendekat ke telinga gue dan dia berbisik kearah gue. jeng…..jeng …..jeng. tebakan gue adalah tepat. Jadi selama ini yang
meneror gue lewat sms adalah si Ani. Tadi si Vidi berbisik kepada gue bahwa si
Ani yang sebenarnya yang meminta nomor hp gue dan Vidi hanya jadi perantara
saja. OMG!!! Ternyata yang selama ini yang menjadi pengagum rahasia gue adalah
si Ani dan ternyata si Ani suka sama gue (nggak
usah lebay juga KELES?).
Semuanya berubah saat gue tau bahwa Ani suka
sama gue. kabar ini menjadi tending topic
di kelas gue. dari kabar itu juga, gue sukses menjadi bahan ejekan dari temen –
temen laki – laki gue. mengkin mereka bermaksud untuk menggoda gue supaya jadi
marah ataupun mereka iri karena manusia ingus (baca : gue) di sukai oleh
seorang cewek cantik macam cerita si buruk rupa dan putri cantik. Gue tak
menghiraukan ejekan temen – temen gue.
Gue membuktikan apakah betul Ani suka sama gue.
gue pun memasang tampang penuh perhatian. Di sela – sela pelajaran gue pasang
gaya nyender di meja sama memperhatikan dia. Dia menengok kearah gue. suatu dia
nengok kearah gue dan melihat gue lagi mendangi dia, dia pun tersipu malu. Dia
terlihat gugup saat gue pandangi dia. Dia salah tingkah. Dan saat yang lain
pula, gue pura – pura nggak ngelihat dia. Dia kembali memandang kearah gue.
Ternyata betul dia bener – bener suka sama gue.
Gue yang mula – mula biasa – biasa aja, lama –
kelamaan sepertinya gue punya rasa ama dia. Gue terkena sindrom cinta. Semenjak
gue tau bahwa yang neror gue itu dia gue jadi berbalas quotes cinta lewat sms.
Kita juga lama – kelamaan semakin akrab. Keakraban ini juga ngeganggu gue buat
konsentrasi belajar. Pernah gue kena marah ama nyokap karena saat waktunya
belajar gue malah sms-an ama dia. Gue juga pernah kena marah ama nyokap gara –
gara nyokap ngeliat isi sms gue sama si Ani.
Keakraban gue sama Ani semakin lama semakin
jauh. Semua temen sekelas pun telah tau bahwa kita udah deket. Gue tau dia suka
sama gue dan dia pun tau kalo gue juga jadi suka sama dia. Temen – temen gue
menyarankan gue untuk nembak si Ani karena kita udah suka sama suka. Salah
satunya si Efendi yang selalu ngebujuk gue, ngerayu gue buat nembak si Ani.
Berbagai cara si Efendi buat ngebujuk gue dari cara yang biasa hingga yang ekstrim.
Gue jadi bingung ama kelakuannya si Efendi sebegitunya ngebujuk gue buat nembak
si Ani. Gue pun bertanya ama si Efendi “Fen,
loe kenapa sih sebegitunya ngerayu gue buat nembak si Ani?” dia ngejawab “nggak apa – apa sih, dia kan suka ama loe,
kenapa nggak loe tembak aja?” gue nyahut jawaban si Efendi “emangnya segampang itukah buat nyatain
perasaan ama orang lain?” dia ngejawab dengan nada tinggi “loe tinggal ninggu apa lagi, loe sama dia
kan udah suka sama suka. Ngapain nunggu lama – lama? ”gue tegasin sama si Efendi “segampang itukah, loe yang bilang gampang,
kalo gue? lagian kenapa loe jadi sewot. Loe aja yang nembak kalo loe suka ama
dia” dia bilang ama gue “kalo
seandainya dia yang suka sama gue bukan loe dari dulu gue udah nembak dia. Loe
beruntung bro!!! dia suka ama loe. Asal loe tau aja, sebenernya gue suka sama dia
udah dari dulu. ” sejenak kita diam. Gue mengetahui sebuah kenyataan bahwa
sebenernya Efendi suka sama si Ani udah dari dulu. Gue jadi nggak enak selama
ini gue ngebicarain kedekatan gue dengan Ani sama si Efendi. Dia lalu pergi
begitu saja.
Kedekatan gue dengan Ani juga membawa dampak
buruk bagi gue. nilai – nilai try out gue yang semula cukup membahagiakan
karena gue dapet rata – rata delapan. Semenjak gue deket sama Ani gue jadi
susah belajar lagi. dia selalu sms pada jam – jam belajar gue. ingin rasanya
tidak membalas nya tapi rasanya sulit hati ini untuk melakukannya. Ingin
menegurnya tapi hati tak tega untuk melakukannya. Nilai try out gue menjadi
jeblok, gue dapet rata – rata jelek bahkan lebih jelek dari si buruk rupa. Ini tak
boleh terus dibiarkan. Gue harus segera bertindak. Mungkin ini adalah momen
yang tepat buat gue mengatakan yang sesungguhnya kepada si Ani. Mungkin ini
kesempatan gue untuk memilih masa depan hubungan ini.
Hari itu pun tiba, hari dimana gue mengatakan
apa yang harus gue katakan yang sebenarnya kepada si Ani. Kala itu matahari di
langit sore belum tenggelam ke barat. Kami sekelas baru saja selesai
kelas tambahan sore. gue melangkah mendekati si Ani. Gue memanggil namanya. Dia
menegok kearah gue. gue bilang ke dia bahwa ada sesuatu yang gue mau omongin. Dia
terlihat jelas dari raut wajahnya nampak sedikit syok seperti tersenyum
mendengar gue mengatakan itu kepadanya.
Dalam hati gue berguman “ini adalah
kesempatan untuk menuntaskan arah hubungan kita”. Dia bilang ke gue “mau bicara tentang apa?” gue jawab dengan suara melengking akibat pubertas “nganu, gue mau bicara tentang……” dia
menyela “tentang apa?” gue jawab “tentang nganu” gue melihat wajahnya
seperti penuh pengharapan. Sejenak gue diam karena gue ngeblank, gue lupa mau
ngomong apa ke Ani. Beberapa detik sampai beberapa menit kemudian, gue lupa
yang harus gue omongin ke si Ani. Lama gue nginget – nginget kembali apa yang
harus gue omongin, Gue pun inget kembali. Gue ngomong ke Ani “Ni, gue mau ngomong tentang masalah hubungan
kita” tatapannya pun semakin menjadi, gue tak sanggup untuk bertatapan mata
dengannya. “hubungan kita kan udah semakin jauh, gue pengen
ngomong serius” gue melanjutkan omongan yang tadi. Dia terus bilang “terus apa” gue ngelajutin “gue sih sebenernya suka sama kamu” gue
lihat pipinya agak memerah. Gue nerusin “tapi”ekspresinya
berubah “tapi maaf, aku nggak bisa
ngomong apa yang ingin kamu denger saat ini. Sekali lagi aku minta maaf, aku
nggak bisa. aku mau fokus sama ujian yang tinggal menghitung hari. Kamu tau
sendirikan kemaren nilai try out ku mengenaskan. Sebenarnya aku rada keganggu
juga sih waktu kita smsan malem – malem. Aku jadi nggak konsen belajar. Aku mau
fokus belajar, aku nggak mau ngecewain orang tuaku. Ini juga demi kebaikan
kita. Aku nggak mau ngeganggu dengan sms kamu, pas lagi belajar ” ekspresi
mukanya menjadi murung “mungkin lebih
baik kita tetep jadi teman” lanjutan gue ngomong dan gue pergi. Saat gue
melangkahkan kaki gue menjauh dari Ani, si Ani bertreak “Laki – laki pengecut, kamu pengecut!!!” gue beguman dalam hati “maaf, aku memang laki – laki pengecut. Tapi
aku hanya ingin kamu tau : I LOVE YOU. Keadaan yang memaksaku tuk membuat
keputusan ini. Keputusan yang amat sulit karena menyakiti hatiku sendiri,
menyakit hatimu, tapi mungkin menjadi yang terbaik buat kita berdua”
Sehabis kejadian itu gue mulai kembali ke jalur
yang sebenarnya gue tuju. Gue mulai lagi fokus terhadap tujuan gue. semenjak
saat itu pula dia udah nggak lagi smsan sama gue. kita putus kontak. Walaupun
sekelas tapi serasa jarak kita terlalu amat jauh, sejak saat itu. belakangan
gue denger kabar burung kalau dia udah ditembak oleh seseorang. tapi gue tak
menghiraukannya gue tetep fokus sama tujuan gue, ngebuat bokap – nyokap bangga
akan prestasi gue.
setelah perjalanan panjang yang di isi oleh
banyak ujian dan berpuncak pada UASBN. Gue pun lega. Tapi tugas gue masih belum
kelar, gue udah usaha pada ujian kemaren dan sekarang gue harus berdoa kepada
Tuhan memohon agar mendapatkan nilai yang terbaik. Gue berdoa hampir di setiap
malam. Gue selalu berdoa dengan isi yang sama pada rentan waktu yang sama pula.
Gue berdoa kepada Tuhan “Tuhan, aku hanya
memohon kepada-Mu agar nilai yang keluar nanti bisa membuat bangga orang tua
hamba. Hamba tak ingin perjuangan hamba sia – sia. Tuhan tolonglah hamba selalu
amien” gue ulang tuh doa setiap malem. Suatu ketika saat gue berdoa, gue
inget ama si Ani. Gue jadi merasa bersalah tentang apa yang gue omongin waktu
itu. gue berdoa kepada Tuhan agar jika gue menyakiti hatinya tolong agar Tuhan
menghapus ingatannya tentang hari itu dan jika mungkin ada kesempatan lagi tuk
bertemu. Tuhan, gue Cuma mau bilang “maaf
dan aku masih cinta sama kamu”. Gue berdoa seperti itu karena gue udah
nggak bertemu lagi ama dia. Semenjak selesai UASBN gue udah nggak berangkat
sekolah lagi. semua urusan sekolah di urus sama bokap. Gue acara perpisaan pun
kita nggak bertemu. Tapi dari kegelisahan gue terhadap dirinya, misi gue
tercapai juga. gue mendapat peringkat dua nilai UASBN terbaik. Ya, walaupun nggak
peringkat pertama bokap – nyokap gue cukup bangga sama anaknya yang satu ini.
Dan ini pun menandakan bahwa gue sukses berubah dari pelajar culun yang
bodohnya minta ampun menjadi pelajar lugu yang banyak mendapat pujian dari guru. gue yang biasanya mendapat cercaan dan hinaan oleh guru kini bertebaran pujian yang dilontarkan ke gue dari mulut guru - guru. Mission Completed. Gue pun bisa
ngelajutin ke sekolah yang menjadi harapan bokap – nyokap gue, SMP terfavorit
di kota gue. tapi dalam kegembiraan gue itu gue masih kagak tau gimana nasibnya
si Ani. Belakangan gue ketahui dia sesekolah bersama pacarnya di sekolah entah apa namanya. Yah, bodoh amat.
Yang lalu biarlah berlalu. Cinta mungkin membawa derita. Menderita karena harus
memilih orang yang kita cintai dengan tujuan yang ingin gue capai. Untuk
mencapai tujuan, ada yang harus di korbankan. Seperti yang gue lakukan, gue
mengorbankan cinta gue ke Ani untuk tujuan gue dan apa yang gue lakukan itu berhasil.
Pengorbanan gue tak sia - sia. Tapi
akibat gue mengorbankan cinta gue ke Ani, gue jadi kehilangan lagi orang yang
gue cintai. Seperti kak bunga. Gue harus menanggung derita galau atas apa yang
gue lakukan. Tapi dari derita ini gue menjadi belajar tentang hal mencintai,
bahwa cinta itu tak harus memiliki. Memang lebih enak jika memilikinya dan
mencintainya sepenuh hati dari pada mencintainya tapi yang di cintai milik
orang lain. Itu adalah salah satu hal paling menyakitkan dari cinta. Gue juga
mebelajar tentang penderiataan cinta atau orang menyebutnya dengan Galau. Dengan menderita gue jadi tau untuk mencintai lagi, butuh
kehati – hatian dalam jatuh cinta. Gue jadi lebih hati – hati terhadap orang
yang suka ama gue. Gue nggak mau menderita lagi. moga aja loe semua nggak ada
yang menderita kayak gue ini. Harus memilih cinta atau tujuan. Itu pilihan yang
sakit bro…. . dan yang udah pada baca moga lebih hati – hati dalam mencintai
seseorang dan dapet pasangan yang baik pada momen yang tepat. bukan seperti gue, cinta datang pada waktu yang salah.

Tidak ada komentar
Posting Komentar