Salah satu hal yang sampai saat ini
masih belum terjelaskan dalam pikiran gue adalah tentang penyebab pindahnya kakak kelas gue
waktu gue SD. Banyak kabar burung yang simpang siur tentang penyebab
mengapa kakak kelas gue waktu itu putus sekolah dan akhirnya pindah sekolah. Mengapa??? Banyak orang yang bertanya -
tanya. Salah satunya gara – gara gue.
Berawal
dari pertemuan pertama gue dengan Kakak kelas gue. Gue bertemu dengan dia
secara tak sengaja pas waktu jadwal piket kelas. Seperti biasa, Sebelum pulang
sekolah regu piket pada hari itu membersihkan ruang kelas setelah KBM usai.
Kebetulan hari itu giliran jadwal regu piketku. Dengan penuh semangat,
keikhlasan dan sedikit keterpaksaan (karena mendapat kekangan oleh guru) gue
ikut ajang bersih – bersih kelas atau pencarian bakat pembantu. Seusai latihan
jadi pembantu yang mau di kirim ke Malaysia ( baca : bersih – bersih kelas).
Gue putuskan untuk pulang, tapi belum beberapa centi meninggalkan pintu ruang
kelas. Gue melihat sesosok bayangan putih (kok jadi dunia lain) seorang
wanita keluar dari ruang kelas samping dengan wajah bersinar merona,
memancarkan cahaya yang mampu silaukan mata namun indah, Buat hati ini menjadi
gundah. Geraknya yang gemulai saat perlahan melangkahkan kakinya, buat tubuh
ini terdiam, terpaku dan membisu. Ingin sekali untuk berucap menyapanya Hai....!!! namun keluh lidah ini Tuk
berbuat apa – apa. Dalam hati hanya bisa Berguman “Tuhan, aku percaya padamu. Kau telah tunjukkan kebesaran-Mu padaku
dengan memperlihatkan satu Bidadarimu padaku. Tuhan terimakasih” gue masih belum bisa berkata – kata
dia sudah pergi. Gue melewatkan kesempatan untuk kenalan sama dia.
Malam
harinya di dalam kamar, gue masing terngiang – ngiang akan kejadian yang gue
alami tadi siang. Dalam hening kamar gue bertanya – tanya siapakah dirinya. Gue
belum pernah sebelumnya melihat dia. Jantung gue berdebar – debar, hati gue
merasa resah, gelisah, mendesah (aahh... aahh...). gue berfikir, mungkin gue
jatuh cinta.
Esoknya gue coba untuk cari informasi tentang cewek yang kemarin gue lihat. Disekolahan gue tanya – tanya sama semua teman mengenai dia. Sulit juga, mencari informasi tentang orang ini karena tak banyak orang yang tahu tentangnya sebab katanya orangnya pendiam. Usut punya usut dia adalah warga desa sebelah yang baru pindah sekitar satu bulan yang lalu. Namanya (kita panggil dengan) Kak Bunga. Gue senangnya bukan main, jingkrak – jingkrak, jungkir balik, salto sampai – sampai semua guru ketakutan karena dikira gue kesurupan kuda lumping karena gue tahu nama dari orang itu.
Dari informasi tersebut, gue jadi pengen lebih tahu lagi tentang kak Bunga. Gue mulai bertindak seperti detektif yang mau mencari informasi yang malah jadi seperti seorang maniak. Gue cari kamera jadul peninggalan kakek gue waktu ABG dulu. Gue coba foto dia secara sembunyi – sembunyi dari mulai di sekolahan sampe dalam kesehariannya.
Dalam kamar gue sendirian, gue pandangi foto dia hasil dari jepretan gue selama ini. Gue berfikir ngak kerasa udah hampir tiga bulan gue ngelakuin ini, udah banyak jepretan – jepretan foto dia yang gue simpan di bawah kasur. Gue ingat waktu pas gue pertama kali melihat kak Bunga. Dari pertama kali melihat, timbul rasa yang datang kemudian turun ke hati. Gue sadar dari pertama kali melihat, timbul cinta dari satu titik kecil yang semakin lama semakin berkembang bertambah besar ukurannya hingga menjadi sebuah lingkaran hitam besar yang memenuhi ruang hati. Dari pertama kali melihat, timbul perasaan bermula seperti dari sebutir pasir yang kemudian bertambah banyak. Bertambah hingga kemudian sampai menjadi gunung seiring dengan bertambahnya waktu. Yah, bertambah waktu dari pertama bertemu hingga hampir tiga bulan ini. Gue juga sadar bahwa sudah lama gue pendam rasa ini. Gue harus ungkapkan kepada kak bunga.
Gue mulai menyusun rencana dan strategi yang benar – benar matang kapan momen yang tepat buat gue nembak kak Bunga. Gue tentukan waktu, tanggal dan hari yang tepat buat nembak dia menurut buku primbon jawa. Hari itu pun tiba, pagi – pagi saat disekolah masih keadaan sepi sunyi. Seorang anak laki – laki kecil, ingusan, berambut klimis, memakai celana merah se pusar (baca : Gue) datang menghampiri kak Bunga yang pada waktu itu sedang menyiram bunga di depan kelasnya karena kebetulan hari itu adalah jadwal piketnya. Laki – laki kecil itu membawa setangkai bunga mawar merah yang berduri banyak (hasil dari nyolong bunga mawar milik tetangga sebelah). Laki – laki kecil itu mendekat ke kak Bunga lalu ia berkata :
Laki – laki kecil : “ Pagi
kak Bunga”
Kak Bunga : “……..” (dia hanya tersenyum, masih dalam menyiram bunga)
Laki – laki kecil : “wah,
bunga itu cantik sekali, Sama seperti wajah kakak yang cantik.”
Kak
Bunga : “…….” (dia tersenyum
lagi, tapi dengan memandang wajah Laki – laki kecil itu)
Laki
– laki kecil : “kak, sebenernya aku pengen ngomong sesuatu sama kakak. Aku suka saka
kakak. Kakak mau ngak……………….” (sambil menyerahkan mawar berduri banyak)
Kak
Bunga : “……..” (terlihat
wajahnya pucat seperti melihat setan dan menjatuhan penyiram bunganya)
Belum selesai gue ngomong ke kak
Bunga. Dia malah pergi masuk ke kelasnya mengambil tas lalu pergi. Sepertinya
pulang kerumah. Dia terlihat buru – buru. Kulihat wajahnya putih pucat seperti
ketakutan saat melihat setan. Gue hanya bengong. Gue tak mengira reaksinya
seperti itu kepada gue. Pulang sekolah di kamar gue, gue bertanya – tanya. Apa yang salah terhadap diri gue?. Gue
bercermin. Gue pandangi muka gue. Gue lihat, apakah ada yang salah terhadap muka gue?. Gue melihat ada ingus
yang masih ada di hidung gue. Gue lupa, tadi pagi belum bersihin ingus ini. Mungkinkah ingus ini menjadi penyebab
ketakutan kak Bunga terhadap kejadian tadi pagi?. Masih sebuah misteri.
Sudah seminggu tak ada kabar mengenai kak Bunga. Dia pun tak masuk sekolah semenjak terjadi peristiwa itu. Gue masih mengira kak Bunga takut kepada ingus gue. Gue bertanya kepada teman gue si Izal yang sok tau. Dia menjawab “mungkin dia sedang menikmati liburan”. Gue Tanya lagi “kok loe tau?”. Si Izal menjawab lagi “gue kemaren – kemaren lihat bapaknya di stasiun kereta. Mungkin beli tiket buat liburan.”
Tak ada surat yang dikirimkan kesekolah apakah dia sakit, izin, keperluan keluarga, atau yang lainnya. Gue masih berharap dia berangkat sekolah lagi dan gue mau ngelanjutin ngomong gue yang belum tuntas kemarin. Gue dengar desas desus di ruang guru bahwa kak Bunga telah pindah sekolah. Gue tak percaya begitu saja, Gue bertanya kepada teman – teman, dan mememang betul dia pindah sekolah bahkan pindah rumah malah dia pindah keluar jawa. Gue waktu itu sangat terpukul mendengar berita itu.
di kamar, gue terdiam. Gue bertanya kepada Tuhan “Tuhan mengapa engkau cepat sekali mempertemukan kami?, tuhan setidaknya berilah hamba waktu sedikit lagi untuk mengungkapkan rasa ini kepadanya Tuhan. Tuhan mengapa kau tega memisahkan kami?” gue mendengar ceramah di tv agar mermintaannya dikabulkan maka melakukan solat sunah. Gue buka buku – buku agama milik bokap gue, gue menemukan solat istiqa’. Malam harinya gue solat istiqa’. Setelah gue solat istiqa’, gue gue berdoa lalu tidur. Keesokan harinya terjadi hujan yang sangat lebat disertai dengan petir. Gue bingung padahal ini musim kemarau. Gue berfikir mungkin ini pertanda buruk. Doa ku tak dikabulkan oleh tuhan. Gue bertanya di dalam doa kepada Tuhan “tuhan mengapa engkau menurunkan hujan lebat kepada hamba, bukan malah menjawab doa hamba?” gue berinisiatif membuka buku agama milik bokap yang kemarin. Gue baca solat istiqa’ untuk meminta permohonan. Gue berfikir betul doa ku tak salah. Gue baca lagi lanjutannya untuk meminta permohonan agar diturunkan hujan. WAH, gue salah solat. Gue harusnya solat untuk memohon dikabulkannya doa gue malah gue solat untuk memohon agar turun turun hujan. Gue telah beranggapan salah kepada tuhan. Ampuni saya tuhan.
Gue akhirnya mengikhlaskan kak Bunga. Yang selama ini telah membuat diriku terpanah. Gue sadar bahwa mungkin dia takut padaku. Mungkin dia pindah gara – gara diriku. Gue juga harusnya sadar diri waktu itu gue masih anak SD ingusan. ibaratkan seekor ayam, gue adalah itik anak ayam yang masih kecil belum menjadi Jago yang telah dewasa. Mengapa gue melakukan hal bodoh itu yang malah menjadi malapetaka bagi dirinya. Gue jadi merasa bersalah atas tindakan yang gue lakukan lalu. Mungkin tak seharusnya kusampaikan. Mungkin baiknya kusimpan dalam – dalam. Mungkin mengaguminya dari jauh sudah cukup bagiku. Menurutku apa yang kita rasakan kepada orang lain ada kalanya di simpan untuk diri sendiri. Terkadang apa yang kita rasakan kepada orang lain jika kita ungkapkan kepada orang tersebut malah akan menjadi sesuatu yang buruk bagi hubungan kita kepada orang tersebut. Seperti gue dengan kak Bunga, pengungkapan yang berujung perpisahan. Gue masih berharap jika suatu hari nanti gue bisa bertemu dia lagi. Walau hanya sekali. Gue hanya sekedar pengen minta maaf karena hal yang gue lakukan. Yap, gue masih berharap hingga saat ini.
Tidak ada komentar
Posting Komentar